TEKNIK PENERBITAN

Lowongan dosen


Lihat Tweet @loker_JKT48: https://twitter.com/loker_JKT48/status/732804300976586753?s=09

Dream Book


Rencana Buka Usaha

“Buatlah rencana hidupmu sendiri, atau seumur hidup akan menjadi bagian dari rencana orang lain”.

Kebanyakan orang yang memiliki keinginan atau angan-angan untuk membuka usaha hanyalah sebatas khayalan yang tidak pernah diwujudkan dengan alasan takut rugi, takut bangkrut, dll. Padahal mereka belum pernah untuk mencoba nya hanya berdasarkan dari cerita orang lain saja yang sering mengalami kerugian atau kebangkrutan karena sepi pelanggan atau bahkan tidak menutup modal.

Justru kesalahan yang dialami orang lain bisa dijadikan peluang dan pelajaran untuk kita yang baru saja ingin memulai usaha nya. Sesuatu bisa gagal karena pasti ada yang salah atau harus ada yang diperbaiki.

Selain itu alasan lain belum mencoba membuka usaha adalah karena mereka gengsi untuk membuka usaha dari yang kecil-kecilan terlebih dahulu padahal usaha yang sering kita anggap recehan sperti orang berdagang makanan seperti bakso, nasi goreng, dan makanan pinggiran jalan lainnya pendapatan mereka bisa jadi lebih besar dar pada seorang pegawai kantoran.

“Kalo mau BESAR berpikirlah yang BESAR”
Cobalah membuka DREAM BOOK anda atau bahkan jika anda tidak pernah menulis impian impian anda belum terlambat untuk anda catat sekarang juga apa impian impian anda dengan segala spesifikasinya didalam dream book anda.

“Karena orang SUKSES selalu mencatat apa yang dia impikan untuk dapat diwujudkan”.

Impian dan keinginan yang besar akan menumbuhkan gairah baru dalam dirinya (Rangga Umara) karena dibuatnya dengan hati, apa yang dibuatnya jadi seperti RUH-nya. Seperti yang dikatakan Stephen Convey, “Mulailah dari yang akhir”.

Berfikirlah akhirnya anda akan sukses dengan usaha kecil-kecilan anda, mendapatkan omzet yang besar dan banyak memiliki pelanggan setia. Karena anda apa yang anda fikirkan. Ubahlah mindset dalam diri anda sehingga anda akan mampu untuk membuka usaha seperti apa yang anda impikan.

Persiapan Buka Usaha

“Kalau tidak BERUBAH, saya akan KALAH.”
-Kotaro Minami-

Akhirnya si penulis buku DREAM BOOK ini, Rangga Umara. Seorang karyawan di salah satu perusahaan yang merasa dirinya berpenghasilan pas-pasan hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga bahkan untuk menabung saja hanya sekedar recehan uang logam. Dia mulai merubah fikiran nya dan dia kembali teringat akan Dream Book nya yang pernah ia tulis beberapa waktu tahun silam meski sempat terlupakan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari zona aman sebagai seorang karyawan kantoran.

Dia banyak belajar dari teman-teman nya yang berpengalaman. Sehingga dia tahu persis apa yang dipersiapkan untuk membuka usaha yang akhirnya dia jatuhkan pada usaha Pecel Lele. Karena dia mencari informasi bahwa usaha tersebut omzet nya mencapai puluhan juta rupiah dan belum memiliki spesialis restoran yang membuka usaha pecel lele tersebut.

  • Penentuan Bidang Usaha : Kuliner
  • Spesialisasi : Pecel Lele
  • Nama (Brand) : Pecel Lele Lela
  • Logo : mengikuti brand starbuck dengan lingkaran hijau yang sudah melekat oleh masyarakat luas namun gambar ditengah diganti dengan gambar Lele yang di design kartun.
  • Brand Story : lela itu sendiri adalah singkatan yang artinya Lebih Laku. Filosofi itu merupakan sebuah do’a dan keinginan.

Mengurus Hak Paten ke Dirjen HAKI.

Jadi pada intinya orang yang hendak mempersiapkan buka usaha selain peralatan fisik,sumber daya manusia dan modal adalah hal-hal yang disebutkan diatas. Terkadang orang lain menganggap hal itu tidak terlalu penting tapi akan penting jika usaha itu menjadi berkembang besar. Usaha kuliner mendunia seperti KFC,Mcd, dan Starbuck adalah berawal dari hal-hal yang telah dirincikan diatas. Kebanyak orang yang membuka usaha lupa akan hak paten sehingga tanpa disadari banyak orang yang berkesempatan mencuri apa yang telah kita miliki. Karena semua berawal dar ide yang brilliant.

Mulailah Berjualan
Setelah nama,logo, brand story, dan Hak paten. Mulailah melakukan tes produk. Cari tahu apa kelebihan dan kelemahan produk kita sebelum dijual. Rangga Umara memaparkan dalam buku ini untuk usahanya.

Kelebihan : lele itu menyehatkan karena mengandung protein dan mineral selain itu dagingnya gurih dan tekstur dagingnya lembu dan tidak terlalu banyak duri. Jadi mudah untuk memakan nya sehingga banyak orang yang menyukai lele.
Kekurangannya : banyak juga orang yang tidak suka lele Karena bentuk fisiknya kepalanya yang menyeramkan seperti ular dan warna nya hitam.

Jika kita sudah mengetahui apa kelebihan dan kekurangan nya sehingga kita bisa membuat analisis nya dengan SWOT. Tonjolkan kelebihan nya lalu poles kekurangan nya. Semua jenis bisnis pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang penting bisa diindetifikasi. Kemudian mulailah bereksperimen dan mempelajari kelebihan dan kekuatan produknya.

“Kebahagiaan sering datang kepada kita dalam bentuk kesakitan, kehilangan, dan kekecewaan , tapi dengan kesabaran , kita segera akan melihat bentuk aslinya”.

Ternyata usaha yang dijalankan oleh si penulis buku ini tidak semulus apa yang dia inginkan. Dalam kondisi dia masih bekerja dikantor, kemudian dia memiliki 3 orang karyawan yang diposisikan sebagai juru masak, pelayan, dan orang yang membantu segala kebutuhan operasional. Sementara itu dia tetap harus menghidupi seorang anak dan istri. Keadaan nya mulai beguncang padahal baru saja dia mulai, promosi sudah sering dia gencarkan tetapi pembeli masih sepi.

Dia berfikir bahwa pasti harus ada yang dikoreksi. Ternyata sepinya pembeli difaktori oleh Lokasi. Lokasi yang tidak terlalu ramai dan tidak didominasi oleh tempat-tempat yang berpotensi memiliki banyak tempat pembeli.

Akhirnya dia mencari lokasi baru. Tanpa harus menutup lokasi sebelumnya. Dia berfikir nilai kali. Dan di cabang yang ke-2 tersebut hasilnya lebih maksimal karena memang lokasinya yang lebih ramai dibanding lokasi cabang pertama namun akhirnya cabang pertama pun mulai banyak diminati oleh warga disekitarnya.

Kendaraan Menjemput Impian
Akhirnya Rangga memutuskan untuk keluar dari kantornya mengingat teguran yang dia dapatkankan karena dia harus mengurusi usahanya dimalam hari sehingga pagi hari ia merasa lelah dan tidak konsen dalam pekerjaan nya. Dia mulai memikirkan untuk memiliki cabang baru. Karena pendapatan bersih rata-rata setiap bulan nya percabang adalah 3juta rupiah. Dia berfikir nilai kali jika dia membuka banyak cabang.

Namun perjalanan karirnya sebagai pengusaha tidak berjalan semulus itu sementara dia sudah tidak berkarir lagi sebagai orang kantoran. Masalah kembali muncul dari si pemilik lokasi cabang ke-2. Orang yang menyewakan tempat, melihat ramai nya pengunjung pecel lela lela di tempat yang dia sewakan kepada rangga tersebut. Menambahkan harga sewa setiap bualan nya. Sehingga keuntungan laba bersih yang diterima rangga semakin berkurang dan berkurang akhirnya.

Dia ingin membuka cabang baru lagi tetapi maslahnya semakin kompleks dan tak semudah saat dia membuka cabnag ke-2. Dia berfikir untuk mengubah strategi . Dia berfikir untuk mencari partner sebagai investor.

“ Tanpa rencana, hidup kita hanya akan disibukkan dengan berpindah dari satu masalah ke masalah yang lain ”

Balada Jatuh bangun

“Jangan takut melakukan kesalahan, yang penting LURUSKAN NIAT lalu PERBAIKI”

Kesalahan demi kesalahan mulai ia perbaiki dan ternyata setelah ditelaah kesalahan nya ada pada KOMUNIKASI. Dalam setiap hubungan, tidak cukup hanya saling MEMAHAMI. Yang terpenting adalah menghindari SALAH MEMAHAMI alias salah paham. Kadang kita selalu ingin sering dimengerti. Kita merasa orang sudah mengerti kita, padahal belum tentu jika tidak ada KOMUNIKASI.

Hal ini terjadi pada kisah si penulis pada chapter sebelumnya diceritakan bahwa dia mengalami masalah yaitu pada saat usaha nya sudah ramai , si pemilik tempat usaha menaikan harga sewa yang semkin tinggi karena dia melihat ramai nya pengunjung. Dan dia dianggap tidak ramah lagi karena setelah usaha berjalan dia tidak pernah bersilaturahmi dengan si pemilik usaha lagi karena terlalu sibuk. Maka disitulah tidak terjadi komunikasi yang baik diantara keduanya.

Sehingga dapat disimpulka, jika kita memiliki sebuah tempat usaha kita juga harus mengenal baik dan ramah terhadap lingkungan disekitar tempat usaha kita sehingga hal tersebut juga memperlanjar usaha kita.

Di chapter ini juga diceritakan keinginan rangga umara untuk membuka cabang baru ke-3 dengan bantuan investor. Dengan bantuan seorang teman nya dia mulai menggarap proposal bisnis usaha untuk diajukan kepada orang yang mau menjadi investor usahanya.

“ Banyak orang cenderung memilih untuk mengganti pekerjaannya, pasangannya, dan teman-temannya. Tapi tidak pernah mempertimbangkan untuk mengubah diri nya sendiri.”

Mengapa Rezeki Mampet?

Pada dasarnya setiap orang selalu mencari ALASAN, dan ALASAN itu ada dua, yaitu ALASAN untuk BERHASIL dan ALASAN untuk GAGAL. Dia pun menyadari selama ini dia hanya belajar dari buku dan serba kata orang.

Dan dalam chapter ini dijelaskan juga beberapa kesalahan yang dia lakukan dalam bisnis nya yaitu mementingkan seluruh kebutuhan usahanya disbanding kebutuhan keluarga nya yang selama dia menjalankan usaha selalu mendapat hasil sisa, dan dalam segi usaha dia sendiri ada dua kesalahan yang cukup fatal.

Membuka cabang yang letaknya terlalu jauh antar cabangnya, sehingga merusak konsentrasinya. Dalam kondisi single fighter, sulit sekali membagi konsentrasi di dua tempat yang berjauhan apalagi belum memiliki system yang benar.

Dia mempercayakan seluruh prosesnya kepada juru masaknya.dari mulai membeli bahan baku, memasak, dan Sehingga dia tidak bisa mengatur pengeluaran untuk bahan baku.

“ Orang gagal punya banyak ALASAN orang sukses punya banyak UPAYA”

Intropeksi & Memantaskan Diri

“Saya harus belajar system rumah makan sama orang yang punya pengalaman, tidak tergantung lagi sama koki”

Kita harus melakukan evaluasi besar-besaran dalam hidup kita jika kita ingin merubah sesuatu yang salah dalam hidup kita. Dari waktu ke waktu dia terus belajar untuk menjadi lebih baik, dia mulai memantaskan diri dengan impianna, ternyata dia menyadari untuk bisa menggapai impian itu yang dibutuhkan bukan Cuma impian atau hal-hal teknis, tapi dia harus menyelaraskan impian dengan perilakunya, dimulai dari pola piker dan mental yang harus dipantaskan untuk menjadi BESAR sebesar IMPIANNYA.
“ Masih belum apa-apa , tapi tahu pasti sedang menuju kemana “

RAHASIA MEWUJUDKAN IMPIAN
Setiap orang punya kemungkinan yang tak terbatas untuk mewujudkan setiap impian nya, tapi sering kali impian tak pernah terwujud karena dibatasi oleh keraguan serta batasan pemikiran orang itu sendiri.

“ Doa bukan ‘ban serep’ yang dikeluarkan saat dalam masalah, tapi doa adalah ‘roda utama’ yang akan membawa kita sampai ke tujuan”

PENYEBAB IMPIAN MANDUL
Manusia cenderung menginginkan segala sesuatu secara instan. Alasan nya ya apalagi kalo bukan karena ingin mencapai tujuannya dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya. Sayangnya, sering sengkali tidak dilaksanakan dengan cara yang seksama. Kita sering melihat orang yang tidak sukses-sukses juga padahal sudah melakukan upaya atau kesuksesannya tidak bertahan lama. Mengapa demikian?

Karena sering kali kita hanya memikirkan rencana-rencana yang bersifat jangka pendekdan hanya memikirkan keuntungan sesaat, jika merasa hasil pekerjaan kita tidak sesuai apa yang diharapkan, akhirnya cari lagi yang lain, dan begitu seterusnya hingga pada akhirnya kita kehilangan fokus.

Tetapi jika kita memfokuskan pada rencana jangka panjang maka kita akan terkondidikan dalam untuk menyusun setiap langkah dengan langkah lebih seksama dan terencana.
“Pekerjaan yang paling sulit diselesaikan adalah pekerjaan yang tidak pernah dimulai”
Dalam hal ini adalah konteks bisnis. Kita selalu berkeinginan membuka usaha tetapi kita selalu merasakan hal takut gagal. Rasa takut tersebut membuat kita sering kali tidak berani membuka usaha karena terlalu banyak pertimbangan, atau malah kita berhenti melakukan sesuatu pada saat kita menghadapi masalah hanya karena kalo maju terus kita akan jatuh.

“ tidak ada orang gagal yang tidak punya masa depan dan tidak ada orang sukses yang tidak punya masa lalu”

Mencoba adalah tindakan yang penuh keberanian, sebaliknya menunda adalah sebuah tindakan pengecut. Jangan terjebak oleh kata takut sebagai alasan untuk menunda.

BENGKEL IMPIAN

“ Jangan merangkak dalam keraguan, berlarilah dengan keyakinan”

Keyakinan itu bisa menjadi sebuah kekuatan yang bisa membuat seseorang yang tadinya biasa saja bisa menjadi luar biasa. Tapi bila keyakinanya terhambat orang yang plaing berbakat sekalipun bisa jadi gagal , karena lalu ragu-ragu dan tidak memulai action.

4 PONDASI yang kita perlukan dalam membangun bisnis usaha
• AKSI
Tidak pernah ada sukes yang tercipta dalam sebuah tindakan yanpa aksi, kita hanya akan jadi pemimpi. Yang dilakukan hanya berandai-andai tanpa hasil yan nyata. Begitu juga kalau kita menulis dalam dream book tanpa action maka selama nya tidak akan pernah terwuujud.

• LOKASI
Bisa juga diartikan dengan POSISI, kita sering kali mengubah lokasi /posisi kita, dan berdiam di satu tempat dengan alsan sudah nyaman dan terbiasa disana. Malas untuk keluar dari lingkaran dan cenderung akan berharap agar keberuntunganlah yang akan menghampiri kita.

• KONEKSI
Memiliki banyak teman sangat menyenangkan, apalagi teman yang tempat berbagi saat kita berbagi suka tapi jugag berbagi duka. Dan akan lebih menyenangkan jika teman-teman kita juga orang yang bekerja sama dengan kita dan selalu mendukung kita yuntuk sukses.

• MENGETAHUI
Jai pengusaha tidak harus banyak bisa , tapi harus banyak “tahu”. Mau buka restoran tidak harus bisa masak, tapi setidaknya tahu membedakan antara juru masak yang jago dan tidak. Begitu juga ingin membuka salon, memangnya kita harus jadi banci dulu untuk buka salon?
Intinya , semua orang bisa melakukan usaha apa sesuai dengan impiannya, tidak harus ahli dibidang itu. Yang harus dilakukan adalah PERLUAS WAWASAN.

“JURUS MENULIS DREAM BOOK”

  1. Buatlah dream book versi kita sendir. Yang terpenting harus KONSISTEN.
  2. Impian yang ditulis juga bisa digunakan sebgaai afirmasi, memacu diri dan meningkatkan adrenalin.
  3. Dihalaman depan tulis nama kita yang besar.
  4. Dihalaman berikutnya cobalah jujur dengan diri kita sendiri. Tulislah kelebihan dan kekurangan kita
  5. Buatlah catatan tetang apa yang kita impikan untuk diri kita sendiri. Mulailah dari kondidi kita yang dulu jangan langsung ke materi.
  6. Tulislah impian-impian kecil kita untuk yang lebih besar.
  7. Maknai setiap impian dengan sesuatu yang positif.
  8. Teruslah berlatih unutk mewujudkan impian.

Sumber : Rangga Umara, The Magic of Dream Book, Transmedia, Jakarta, 2014.

 

Delapan cara menerbitkan buku


buku5by EDDY ZAGEUS*

Salah satu pertanyaan yang sering dilayangkan kepada saya adalah soal bagaimana membuat self-publishing atau independent publishing. Self-publihsing adalah kegiatan penerbitan karya-karya sendiri. Sementara, independent publishing umumnya adalah sebuah penerbitan mandiri yang dikelola secara independen, yang menerbitkan karya-karya sendiri maupun karya orang lain. Tak jarang, sebuah penerbitan umum yang berkembang semula diawali dari self/independent publishing.

Seperti saya singgung dalam tulisan-tulisan sebelumnya, salah satu tren perbukuan ke depan adalah maraknya pendirian penerbitan mandiri ini. Mengapa? Ya, karena sekarang membuat penerbitan sendiri sudah sedemikian mudahnya. Selain itu, banyak manfaat yang bisa diambil, selain juga potensi bisnisnya yang lumayan. Saya pun mendapati bahwa minat para penulis untuk membuat penerbitan mandiri ternyata cukup lumayan. Klien-klien saya sendiri juga banyak yang berminat dan akhirnya mendirikan penerbitannya sendiri.

Nah, bagi Anda yang ingin mencoba membuat self-publishing atau independent publishing, saya coba memadatkan segala tetek-bengek pembuatan penerbitan mandiri ini ke dalam delapan langkah berikut.

Pertama, siapkan naskah yang siap terbit dan memenuhi kriteria atau anjuran-anjuran sebagaimana saya tulis dalam buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005). Naskah siap terbit artinya naskah yang sudah tersunting secara rapi dan lengkap (lihat artikel “Bagaimana Melengkapi dan Mengamankan Naskah Buku?”). Naskah yang sudah rapi dan lengkap akan memudahkan proses penerbitan buku. Sementara, naskah yang tidak lengkap dan rapi bisa sangat merepotkan.

Untuk Anda yang ingin benar-benar mendapatkan manfaat finansial dari ‘petualangan penerbitan’ ini, saya anjurkan supaya benar-benar memilih naskah buku yang berpotensi untuk laku keras. Atau, akan jauh lebih baik lagi bila naskah itu berpotensi menjadi buku best-seller. Apa ciri-cirinya? Saya sudah bahas lengkap dalam artikel-artikel atau buku saya sebelumnya. Kecuali Anda memiliki misi khusus dengan penerbitan naskah tertentu, maka soal laku atau tidak laku memang tidak terlalu memusingkan.

Kedua, siapkan modal yang cukup untuk mencetak dan mempromosikan buku. Perkiraan saya, jika kita bisa efesien sekali dalam proses penerbitan ini, maka dengan modal sekitar Rp15-30 juta kita sudah bisa menerbitkan buku fast book atau buku ukuran 14 x 21 cm dengan rata-rata ketebalan antara 150-200 halaman dan oplah mencapai 3.000 eksemplar. Di sejumlah kota seperti di Yogyakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya, kadang dengan modal di bawah Rp10 juta pun bisa jalan dengan jumlah cetak yang lebih sedikit.

Nah, sebagian orang tidak bermasalah dengan modal. Klien-klien saya, terutama yang datang dari lembaga konsultan, perusahaan, atau pembicara publik, biasanya tidak menemui kesulitan soal modal penerbitan. Sementara, bagi sebagian lagi amat bermasalah alias sulit mendapatkan modal. Saya lihat, tak sedikit penulis yang memanfaatkan royalti bukunya untuk memodali dan mengawali penerbitan mandiri mereka. Saya sendiri termasuk yang menempuh jalan ini. Sebagian lain ada yang patungan dengan rekan-rekannya. Prinsipnya, asal ada naskah yang bagus potensi pasarnya, maka modal pasti tidak sulit didapat.

Ketiga, merumuskan nama penerbitan yang menjual. Bagi saya sendiri, ini merupakan satu tahap yang penting dan sangat menarik. Bagaimana tidak? Membuat nama penerbitan layaknya menciptakan sebuah merek produk. Kita menciptakan identitas yang nantinya akan berkembang menjadi sebuah institusi. Sementara mereknya sendiri bisa saja berkembang dan memiliki ekuitas yang tinggi. Bolehlah kita berandai-andai suatu saat penerbitan yang kita lahirkan ini akan besar dan mapan sebagaimana penerbitan-penerbitan lainnya.

Maka dari itu, sekalipun kita bebas memilih nama penerbitan, saya anjurkan supaya Anda memilih atau menciptakan nama penerbitan yang memiliki makna tertentu, sekaligus punya nilai jual. Ketika saya melahirkan Bornrich Publishing, maka bayangan saya adalah sebuah penerbitan buku yang sifatnya menggerakkan motivasi dan etos ekonomi, dan kemudian berujung pada cita-cita kesejahteraan masyarakat. Ketika saya melahirkan Fivestar Publishing, maka bayangan saya adalah sebuah penerbitan yang bertujuan untuk menggerakkan masyarakat supaya bangkit dan mengejar prestasi terbaik.

Khusus untuk lembaga konsultansi atau yayasan, maka inisial atau singkatan dari institusi tersebut juga bagus untuk dipakai sebagai nama penerbitan. Selain membantu branding lembaga tersebut, koneksitas antara penerbitan dengan lembaga tadi juga terasa lebihs erasi. Semisal, Jagadnita adalah sebuah lembaga konsultasi psikologi yang kemudian mendirikan Jagadnita Publishing. Atau Quantum Asia Corpora, sebuah lembaga konsultansi yang kemudian mendirikan QAC Publishing.

Keempat, menyiapkan desain kaver dan tata letak (lay out). Untuk kedua pekerjaan ini, kita bisa melakukannya sendiri bila mampu, atau dengan menggunakan tenaga desain profesional. Kita bisa memanfaatkan tenaga-tenaga desainer freelance atau mereka yang biasanya bekerja di perusahaan penerbitan. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan desainer kaver atau penata letak dengan cara mem-posting pengumuman ke milis-milis perbukuan.

Untuk tata letak buku, biayanya bervariasi tergantung pada ketebalan buku serta ornamen-ornamen di dalamnya. Jika naskah buku kita banyak menggunakan grafik, foto, atau detail ornamen yang rumit, maka biaya tata letaknya bisa agak mahal (standar Rp1.500.000-3.000.000). Sementara, tata letak buku yang hanya berisi teks tidak memerlukan biaya mahal karena relatif lebih mudah dikerjakan (standar Rp750.000-1.500.000).

Soal biaya desain kaver bervariasi, tergantung pada siapa yang mengerjakan dan jenis desain yang dikehendaki. Di Yogyakarta, kita bisa mendapatkan desainer kaver standar dengan fee berkisar antara Rp400.000-800.000. Adapun di Jakarta, fee untuk desain kaver standar berkisar antara Rp600.000-1.200.000. Untuk desain-desain tertentu, biayanya bisa lebih mahal. Saya dengar, seorang desainer kaver buku yang cukup punya nama menetapkan fee sebesar Rp10 juta.

Kelima, urus ISBN dan membuat barcode. Setiap judul buku perlu ‘identitas’ yang berlaku secara internasional dengan cara mendapatkan nomor ISBN. Jika sudah mendapat nomor ISBN, maka pekerjaan berikutnya adalah membuat barcode buku. Perpustakaan Nasional, tempat kita mendaftarkan ISBN buku kita, juga melayani pembuatan barcode. Tapi, kita bisa buat sendiri barcode dengan menggunakan program Corel Draw, asal sudah mendapatkan nomor ISBN.

Cara mendapatkan ISBN mudah sekali. Kita cukup menyiapkan satu surat permohonan ISBN (ditujukan kepada Kepala Perpustakaan Nasional u.p. bagian ISBN) dengan dilengkapi fotokopi halaman judul buku, halaman hak cipta, daftar isi, dan pendahuluan. Berkas bisa dikirim via pos, faksimili, atau diantar langsung ke Gedung Perpustakaan Nasional RI (lantai 2) di Jalan Salemba Raya 28-A, Jakarta (Telp: 021-3101411 psw 437). Bila kita baru pertama kali menerbitkan buku, maka kita akan diminta mengisi formulir keanggotaan ISBN. Kita akan mendapatkan kartu keanggotaan ISBN dan penerbitan kita tercatat di Perpustakaan Nasional. Pengalaman saya, mengurus ISBN berlangsung cepat, tak kurang dari 15 menit dan hanya membutuhkan biaya administrasi Rp25.000 (tanpa film barcode) untuk setiap judul buku.

Keenam, memilih percetakan yang tepat. Ada banyak jenis percetakan, tetapi pastikan untuk hanya memilih percetakan yang sudah berpengalaman dalam mencetak buku. Jangan pilih sembarang percetakan, terlebih percetakan yang hanya sekali-sekali mencetak buku. Jangan pula tergoda dengan percetakan yang asal murah. Terpenting adalah kualitas cetak dengan harga yang wajar. Ingat, produk buku punya bobot lain dibanding materi-materi cetak lainnya. Kalau kualitas cetaknya buruk, lupakanlah soal kredibilitas, kepercayaan, dan soal brand penerbitan maupun penulisnya.

Jika kita seorang pemula dalam penerbitan buku, usahakan mendapat pelayanan dari staf marketing percetakan tersebut. Pengalaman saya dan klien-klien saya, hampir setiap percetakan yang baik pasti menyediakan staf marketing yang siap melayani kliennya. Berurusan dengan percetakan seperti ini, kita bisa tinggal menyerahkan materi cetak, sementara mereka yang akan mengurus detailnya. Dan untuk amannya, pastikan pula kita bisa bersinergi dengan bagian percetakan dan desainer kaver maupun penata letak isi buku.

Ketujuh, menentukan harga jual buku. Setelah mengetahui biaya cetak dan komponen-komponen biaya lainnya (desain kaver, tata letak, editing, promosi), maka kita sudah bisa memperkirakan harga jual buku nantinya. Bagaiamana rumusannya? Mudah: seluruh biaya produksi dibagi dengan jumlah oplah buku, lalu dikalikan lima, hasilnya adalah harga jual buku kita. Contoh, biaya produksi Rp24.000.000 dibagi jumlah cetak 3.000 eksemplar (ketemu harga produksi @ Rp8.000) dikalikan lima = Rp40.000. Jadi, harga jual buku kita di toko nantinya Rp40.000.

Formula harga di atas adalah yang paling umum digunakan dan membuat harga buku tetap terjangkau. Yang saya amati, ada pula yang menggunakan bilangan pengali antara 6-7 kali untuk menetapkan harga jual. Akibatnya, harga buku menjadi jauh lebih mahal. Di satu sisi ini menguntungkan penerbit, di sisi lain ini berisiko juga, karena harga yang terlalu tinggi juga mempengaruhi minat beli komsumen. Oleh karena itu, pada kesempatan pertama menerbitkan buku, jangan pernah tergoda untuk melambungkan harga buku. Bila ingin mengunakan angka pengali lebih dari lima, pertimbangkan betul-betul daya serap pasar nantinya. Bila perlu, mintalah masukan dari konsultan penerbitan, distributor, atau toko buku kerena merekalah yang paham soal itu.

Kedelapan, mengadakan perjanjian distribusi dengan distributor. Pada saat naskah buku naik cetak, kita sudah harus mendapatkan distributor buku. Sebab, bila kita sudah mendapatkan distributor buku saat proses pencetakan berlangsung, maka selesai cetak buku itu bisa langsung dikirim ke gudang distributor. Distributor buku adalah salah satu pilar utama bisnis penerbitan, selain toko buku dan penerbit itu sendiri. Sebagai penerbit, bisa saja kita berkeliling dari toko ke toko untuk menawarkan buku kita (konsinyasi atau beli putus). Tapi, untuk menghemat tenaga, menjangkau toko-toko secara nasional, dan mempermudah persoalan administrasi, lebih baik kita menggunakan jasa distributor.

Banyak distributor buku dengan kekuatan maupun kekurangannya masing-masing. Hampir semuanya menggunakan sistem konsinyasi (beli kredit atau pembayaran sesuai dengan jumlah buku yang laku). Ada yang lingkupnya nasional serta menjangkau hampir seluruh toko buku, ada pula yang lingkupnya lokal dan hanya menjangkau toko-toko buku tertentu. Diskon yang diminta oleh distributor (yang nantinya dibagi dengan toko-toko buku) berkisar antara 45-60 persen dari harga jual buku. Soal diskon, kita bisa bernegosiasi dengan pihak distributor dan kemudian kerjasama itu dibuat dalam format kontrak kerjasama pendistribusian.

Nantinya, sebulan sekali kita akan menerima laporan penjualan buku kita. Sementara, jatuh tempo pembayaran bervariasi antara distributor yang satu dengan yang lain. Ada distributor yang sudah bisa membayar dalam setengah bulan, namun ada pula yang baru membayar dua bulan setelah laporan penjualan kita terima. Semua ketentuan itu termaktub dalam kontrak kerjasama.

Pada intinya, delapan langkah itulah yang kita butuhkan untuk mendirikan sebuah penerbitan mandiri. Kedelapan langkah tersebut sudah mencakup persiapan penerbitan hingga peredaran buku ke pasaran. Sebab, begitu buku kita sudah sampai di tangan distributor, maka biasanya seminggu kemudian buku tersebut sudah beredar di toko-toko buku. Sebagai penerbit, kita sudah menyelesaikan satu rangkaian proses produksi atau penerbitan buku.

Dan, begitu buku produksi penerbitan mandiri kita beredar di toko-toko, maka sejak itulah merek penerbitan kita resmi beredar di tengah-tengah khalayak. Tugas kita selanjutnya sebagai penerbit adalah membuat gema promosi dengan berbagai aktivitas supaya khalayak tertarik dan kemudian membelinya.

Tapi, saya sering mendapat pertanyaan begini, “Apakah membuat penerbitan mandiri itu harus disertai dengan pendirian badan usaha semacam PT atau setidaknya CV? Bagiamana soal pajak dan sebagainya?” Jawaban saya standar saja, tidak selalu. Apabila penerbitan ini formatnya self-publishing atau independent publishing, terlebih bila masih coba-coba menemukan format, mengapa harus di-PT-kan? Langkah itu akan menambah beban biaya lagi, sementara ‘petualangan penerbitan’ belum tentu menguntungkan.

Nah, apabila nantinya penerbitan yang kita bangun itu menguntungkan, bisa memproduksi buku lebih banyak lagi, bisa mempekerjakan beberapa orang, manajemen sudah dirapikan, urusan pajak sudah dipersiapkan dan ditata dengan lebih baik, silakan bentuk badan usahanya. Dunia penerbitan kita banyak diwarnai oleh langkah-langkah semacam ini. Hampir semua penerbit kecil atau independen pada awalnya berusaha memperkuat bisnisnya dulu. Setelah mampu memperkuat basis bisnisnya dengan terus mengembangkan diri, barulah kemudian membakukan penerbitannya dalam sebuah badan hukum dan kemudian memproklamirkan diri menjadi penerbitan umum. Jadi, tunggu apa lagi? Selamat mendirikan penerbitan mandiri.[ez]

* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, penulis buku-buku best-seller, penerbit buku, dan konsultan penerbitan. Ia mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang melahirkan buku-buku laris. Ia juga telah membantu banyak klien dalam melahirkan buku-buku bestseller dan mendirikan penerbitan mandiri. Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.