Penulis: Ahmad Elqorni

Kelahiran Garut, Berprofesi sebagai pendidik sejak tahun 1990 yang concern terhadap dokumentasi blog ilmu pendidikan, manajemen, HR& D, komunikasi, organisasi, budaya etnis dan saat ini penyunting sebagai dosen dan ketua LPPM di STBA-JIA Bekasi dan penggiat blog sejak tahun 2007.

Lowongan dosen


Lihat Tweet @loker_JKT48: https://twitter.com/loker_JKT48/status/732804300976586753?s=09

Dream Book


Rencana Buka Usaha

“Buatlah rencana hidupmu sendiri, atau seumur hidup akan menjadi bagian dari rencana orang lain”.

Kebanyakan orang yang memiliki keinginan atau angan-angan untuk membuka usaha hanyalah sebatas khayalan yang tidak pernah diwujudkan dengan alasan takut rugi, takut bangkrut, dll. Padahal mereka belum pernah untuk mencoba nya hanya berdasarkan dari cerita orang lain saja yang sering mengalami kerugian atau kebangkrutan karena sepi pelanggan atau bahkan tidak menutup modal.

Justru kesalahan yang dialami orang lain bisa dijadikan peluang dan pelajaran untuk kita yang baru saja ingin memulai usaha nya. Sesuatu bisa gagal karena pasti ada yang salah atau harus ada yang diperbaiki.

Selain itu alasan lain belum mencoba membuka usaha adalah karena mereka gengsi untuk membuka usaha dari yang kecil-kecilan terlebih dahulu padahal usaha yang sering kita anggap recehan sperti orang berdagang makanan seperti bakso, nasi goreng, dan makanan pinggiran jalan lainnya pendapatan mereka bisa jadi lebih besar dar pada seorang pegawai kantoran.

“Kalo mau BESAR berpikirlah yang BESAR”
Cobalah membuka DREAM BOOK anda atau bahkan jika anda tidak pernah menulis impian impian anda belum terlambat untuk anda catat sekarang juga apa impian impian anda dengan segala spesifikasinya didalam dream book anda.

“Karena orang SUKSES selalu mencatat apa yang dia impikan untuk dapat diwujudkan”.

Impian dan keinginan yang besar akan menumbuhkan gairah baru dalam dirinya (Rangga Umara) karena dibuatnya dengan hati, apa yang dibuatnya jadi seperti RUH-nya. Seperti yang dikatakan Stephen Convey, “Mulailah dari yang akhir”.

Berfikirlah akhirnya anda akan sukses dengan usaha kecil-kecilan anda, mendapatkan omzet yang besar dan banyak memiliki pelanggan setia. Karena anda apa yang anda fikirkan. Ubahlah mindset dalam diri anda sehingga anda akan mampu untuk membuka usaha seperti apa yang anda impikan.

Persiapan Buka Usaha

“Kalau tidak BERUBAH, saya akan KALAH.”
-Kotaro Minami-

Akhirnya si penulis buku DREAM BOOK ini, Rangga Umara. Seorang karyawan di salah satu perusahaan yang merasa dirinya berpenghasilan pas-pasan hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga bahkan untuk menabung saja hanya sekedar recehan uang logam. Dia mulai merubah fikiran nya dan dia kembali teringat akan Dream Book nya yang pernah ia tulis beberapa waktu tahun silam meski sempat terlupakan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari zona aman sebagai seorang karyawan kantoran.

Dia banyak belajar dari teman-teman nya yang berpengalaman. Sehingga dia tahu persis apa yang dipersiapkan untuk membuka usaha yang akhirnya dia jatuhkan pada usaha Pecel Lele. Karena dia mencari informasi bahwa usaha tersebut omzet nya mencapai puluhan juta rupiah dan belum memiliki spesialis restoran yang membuka usaha pecel lele tersebut.

  • Penentuan Bidang Usaha : Kuliner
  • Spesialisasi : Pecel Lele
  • Nama (Brand) : Pecel Lele Lela
  • Logo : mengikuti brand starbuck dengan lingkaran hijau yang sudah melekat oleh masyarakat luas namun gambar ditengah diganti dengan gambar Lele yang di design kartun.
  • Brand Story : lela itu sendiri adalah singkatan yang artinya Lebih Laku. Filosofi itu merupakan sebuah do’a dan keinginan.

Mengurus Hak Paten ke Dirjen HAKI.

Jadi pada intinya orang yang hendak mempersiapkan buka usaha selain peralatan fisik,sumber daya manusia dan modal adalah hal-hal yang disebutkan diatas. Terkadang orang lain menganggap hal itu tidak terlalu penting tapi akan penting jika usaha itu menjadi berkembang besar. Usaha kuliner mendunia seperti KFC,Mcd, dan Starbuck adalah berawal dari hal-hal yang telah dirincikan diatas. Kebanyak orang yang membuka usaha lupa akan hak paten sehingga tanpa disadari banyak orang yang berkesempatan mencuri apa yang telah kita miliki. Karena semua berawal dar ide yang brilliant.

Mulailah Berjualan
Setelah nama,logo, brand story, dan Hak paten. Mulailah melakukan tes produk. Cari tahu apa kelebihan dan kelemahan produk kita sebelum dijual. Rangga Umara memaparkan dalam buku ini untuk usahanya.

Kelebihan : lele itu menyehatkan karena mengandung protein dan mineral selain itu dagingnya gurih dan tekstur dagingnya lembu dan tidak terlalu banyak duri. Jadi mudah untuk memakan nya sehingga banyak orang yang menyukai lele.
Kekurangannya : banyak juga orang yang tidak suka lele Karena bentuk fisiknya kepalanya yang menyeramkan seperti ular dan warna nya hitam.

Jika kita sudah mengetahui apa kelebihan dan kekurangan nya sehingga kita bisa membuat analisis nya dengan SWOT. Tonjolkan kelebihan nya lalu poles kekurangan nya. Semua jenis bisnis pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang penting bisa diindetifikasi. Kemudian mulailah bereksperimen dan mempelajari kelebihan dan kekuatan produknya.

“Kebahagiaan sering datang kepada kita dalam bentuk kesakitan, kehilangan, dan kekecewaan , tapi dengan kesabaran , kita segera akan melihat bentuk aslinya”.

Ternyata usaha yang dijalankan oleh si penulis buku ini tidak semulus apa yang dia inginkan. Dalam kondisi dia masih bekerja dikantor, kemudian dia memiliki 3 orang karyawan yang diposisikan sebagai juru masak, pelayan, dan orang yang membantu segala kebutuhan operasional. Sementara itu dia tetap harus menghidupi seorang anak dan istri. Keadaan nya mulai beguncang padahal baru saja dia mulai, promosi sudah sering dia gencarkan tetapi pembeli masih sepi.

Dia berfikir bahwa pasti harus ada yang dikoreksi. Ternyata sepinya pembeli difaktori oleh Lokasi. Lokasi yang tidak terlalu ramai dan tidak didominasi oleh tempat-tempat yang berpotensi memiliki banyak tempat pembeli.

Akhirnya dia mencari lokasi baru. Tanpa harus menutup lokasi sebelumnya. Dia berfikir nilai kali. Dan di cabang yang ke-2 tersebut hasilnya lebih maksimal karena memang lokasinya yang lebih ramai dibanding lokasi cabang pertama namun akhirnya cabang pertama pun mulai banyak diminati oleh warga disekitarnya.

Kendaraan Menjemput Impian
Akhirnya Rangga memutuskan untuk keluar dari kantornya mengingat teguran yang dia dapatkankan karena dia harus mengurusi usahanya dimalam hari sehingga pagi hari ia merasa lelah dan tidak konsen dalam pekerjaan nya. Dia mulai memikirkan untuk memiliki cabang baru. Karena pendapatan bersih rata-rata setiap bulan nya percabang adalah 3juta rupiah. Dia berfikir nilai kali jika dia membuka banyak cabang.

Namun perjalanan karirnya sebagai pengusaha tidak berjalan semulus itu sementara dia sudah tidak berkarir lagi sebagai orang kantoran. Masalah kembali muncul dari si pemilik lokasi cabang ke-2. Orang yang menyewakan tempat, melihat ramai nya pengunjung pecel lela lela di tempat yang dia sewakan kepada rangga tersebut. Menambahkan harga sewa setiap bualan nya. Sehingga keuntungan laba bersih yang diterima rangga semakin berkurang dan berkurang akhirnya.

Dia ingin membuka cabang baru lagi tetapi maslahnya semakin kompleks dan tak semudah saat dia membuka cabnag ke-2. Dia berfikir untuk mengubah strategi . Dia berfikir untuk mencari partner sebagai investor.

“ Tanpa rencana, hidup kita hanya akan disibukkan dengan berpindah dari satu masalah ke masalah yang lain ”

Balada Jatuh bangun

“Jangan takut melakukan kesalahan, yang penting LURUSKAN NIAT lalu PERBAIKI”

Kesalahan demi kesalahan mulai ia perbaiki dan ternyata setelah ditelaah kesalahan nya ada pada KOMUNIKASI. Dalam setiap hubungan, tidak cukup hanya saling MEMAHAMI. Yang terpenting adalah menghindari SALAH MEMAHAMI alias salah paham. Kadang kita selalu ingin sering dimengerti. Kita merasa orang sudah mengerti kita, padahal belum tentu jika tidak ada KOMUNIKASI.

Hal ini terjadi pada kisah si penulis pada chapter sebelumnya diceritakan bahwa dia mengalami masalah yaitu pada saat usaha nya sudah ramai , si pemilik tempat usaha menaikan harga sewa yang semkin tinggi karena dia melihat ramai nya pengunjung. Dan dia dianggap tidak ramah lagi karena setelah usaha berjalan dia tidak pernah bersilaturahmi dengan si pemilik usaha lagi karena terlalu sibuk. Maka disitulah tidak terjadi komunikasi yang baik diantara keduanya.

Sehingga dapat disimpulka, jika kita memiliki sebuah tempat usaha kita juga harus mengenal baik dan ramah terhadap lingkungan disekitar tempat usaha kita sehingga hal tersebut juga memperlanjar usaha kita.

Di chapter ini juga diceritakan keinginan rangga umara untuk membuka cabang baru ke-3 dengan bantuan investor. Dengan bantuan seorang teman nya dia mulai menggarap proposal bisnis usaha untuk diajukan kepada orang yang mau menjadi investor usahanya.

“ Banyak orang cenderung memilih untuk mengganti pekerjaannya, pasangannya, dan teman-temannya. Tapi tidak pernah mempertimbangkan untuk mengubah diri nya sendiri.”

Mengapa Rezeki Mampet?

Pada dasarnya setiap orang selalu mencari ALASAN, dan ALASAN itu ada dua, yaitu ALASAN untuk BERHASIL dan ALASAN untuk GAGAL. Dia pun menyadari selama ini dia hanya belajar dari buku dan serba kata orang.

Dan dalam chapter ini dijelaskan juga beberapa kesalahan yang dia lakukan dalam bisnis nya yaitu mementingkan seluruh kebutuhan usahanya disbanding kebutuhan keluarga nya yang selama dia menjalankan usaha selalu mendapat hasil sisa, dan dalam segi usaha dia sendiri ada dua kesalahan yang cukup fatal.

Membuka cabang yang letaknya terlalu jauh antar cabangnya, sehingga merusak konsentrasinya. Dalam kondisi single fighter, sulit sekali membagi konsentrasi di dua tempat yang berjauhan apalagi belum memiliki system yang benar.

Dia mempercayakan seluruh prosesnya kepada juru masaknya.dari mulai membeli bahan baku, memasak, dan Sehingga dia tidak bisa mengatur pengeluaran untuk bahan baku.

“ Orang gagal punya banyak ALASAN orang sukses punya banyak UPAYA”

Intropeksi & Memantaskan Diri

“Saya harus belajar system rumah makan sama orang yang punya pengalaman, tidak tergantung lagi sama koki”

Kita harus melakukan evaluasi besar-besaran dalam hidup kita jika kita ingin merubah sesuatu yang salah dalam hidup kita. Dari waktu ke waktu dia terus belajar untuk menjadi lebih baik, dia mulai memantaskan diri dengan impianna, ternyata dia menyadari untuk bisa menggapai impian itu yang dibutuhkan bukan Cuma impian atau hal-hal teknis, tapi dia harus menyelaraskan impian dengan perilakunya, dimulai dari pola piker dan mental yang harus dipantaskan untuk menjadi BESAR sebesar IMPIANNYA.
“ Masih belum apa-apa , tapi tahu pasti sedang menuju kemana “

RAHASIA MEWUJUDKAN IMPIAN
Setiap orang punya kemungkinan yang tak terbatas untuk mewujudkan setiap impian nya, tapi sering kali impian tak pernah terwujud karena dibatasi oleh keraguan serta batasan pemikiran orang itu sendiri.

“ Doa bukan ‘ban serep’ yang dikeluarkan saat dalam masalah, tapi doa adalah ‘roda utama’ yang akan membawa kita sampai ke tujuan”

PENYEBAB IMPIAN MANDUL
Manusia cenderung menginginkan segala sesuatu secara instan. Alasan nya ya apalagi kalo bukan karena ingin mencapai tujuannya dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya. Sayangnya, sering sengkali tidak dilaksanakan dengan cara yang seksama. Kita sering melihat orang yang tidak sukses-sukses juga padahal sudah melakukan upaya atau kesuksesannya tidak bertahan lama. Mengapa demikian?

Karena sering kali kita hanya memikirkan rencana-rencana yang bersifat jangka pendekdan hanya memikirkan keuntungan sesaat, jika merasa hasil pekerjaan kita tidak sesuai apa yang diharapkan, akhirnya cari lagi yang lain, dan begitu seterusnya hingga pada akhirnya kita kehilangan fokus.

Tetapi jika kita memfokuskan pada rencana jangka panjang maka kita akan terkondidikan dalam untuk menyusun setiap langkah dengan langkah lebih seksama dan terencana.
“Pekerjaan yang paling sulit diselesaikan adalah pekerjaan yang tidak pernah dimulai”
Dalam hal ini adalah konteks bisnis. Kita selalu berkeinginan membuka usaha tetapi kita selalu merasakan hal takut gagal. Rasa takut tersebut membuat kita sering kali tidak berani membuka usaha karena terlalu banyak pertimbangan, atau malah kita berhenti melakukan sesuatu pada saat kita menghadapi masalah hanya karena kalo maju terus kita akan jatuh.

“ tidak ada orang gagal yang tidak punya masa depan dan tidak ada orang sukses yang tidak punya masa lalu”

Mencoba adalah tindakan yang penuh keberanian, sebaliknya menunda adalah sebuah tindakan pengecut. Jangan terjebak oleh kata takut sebagai alasan untuk menunda.

BENGKEL IMPIAN

“ Jangan merangkak dalam keraguan, berlarilah dengan keyakinan”

Keyakinan itu bisa menjadi sebuah kekuatan yang bisa membuat seseorang yang tadinya biasa saja bisa menjadi luar biasa. Tapi bila keyakinanya terhambat orang yang plaing berbakat sekalipun bisa jadi gagal , karena lalu ragu-ragu dan tidak memulai action.

4 PONDASI yang kita perlukan dalam membangun bisnis usaha
• AKSI
Tidak pernah ada sukes yang tercipta dalam sebuah tindakan yanpa aksi, kita hanya akan jadi pemimpi. Yang dilakukan hanya berandai-andai tanpa hasil yan nyata. Begitu juga kalau kita menulis dalam dream book tanpa action maka selama nya tidak akan pernah terwuujud.

• LOKASI
Bisa juga diartikan dengan POSISI, kita sering kali mengubah lokasi /posisi kita, dan berdiam di satu tempat dengan alsan sudah nyaman dan terbiasa disana. Malas untuk keluar dari lingkaran dan cenderung akan berharap agar keberuntunganlah yang akan menghampiri kita.

• KONEKSI
Memiliki banyak teman sangat menyenangkan, apalagi teman yang tempat berbagi saat kita berbagi suka tapi jugag berbagi duka. Dan akan lebih menyenangkan jika teman-teman kita juga orang yang bekerja sama dengan kita dan selalu mendukung kita yuntuk sukses.

• MENGETAHUI
Jai pengusaha tidak harus banyak bisa , tapi harus banyak “tahu”. Mau buka restoran tidak harus bisa masak, tapi setidaknya tahu membedakan antara juru masak yang jago dan tidak. Begitu juga ingin membuka salon, memangnya kita harus jadi banci dulu untuk buka salon?
Intinya , semua orang bisa melakukan usaha apa sesuai dengan impiannya, tidak harus ahli dibidang itu. Yang harus dilakukan adalah PERLUAS WAWASAN.

“JURUS MENULIS DREAM BOOK”

  1. Buatlah dream book versi kita sendir. Yang terpenting harus KONSISTEN.
  2. Impian yang ditulis juga bisa digunakan sebgaai afirmasi, memacu diri dan meningkatkan adrenalin.
  3. Dihalaman depan tulis nama kita yang besar.
  4. Dihalaman berikutnya cobalah jujur dengan diri kita sendiri. Tulislah kelebihan dan kekurangan kita
  5. Buatlah catatan tetang apa yang kita impikan untuk diri kita sendiri. Mulailah dari kondidi kita yang dulu jangan langsung ke materi.
  6. Tulislah impian-impian kecil kita untuk yang lebih besar.
  7. Maknai setiap impian dengan sesuatu yang positif.
  8. Teruslah berlatih unutk mewujudkan impian.

Sumber : Rangga Umara, The Magic of Dream Book, Transmedia, Jakarta, 2014.

 

Delapan cara menerbitkan buku


buku5by EDDY ZAGEUS*

Salah satu pertanyaan yang sering dilayangkan kepada saya adalah soal bagaimana membuat self-publishing atau independent publishing. Self-publihsing adalah kegiatan penerbitan karya-karya sendiri. Sementara, independent publishing umumnya adalah sebuah penerbitan mandiri yang dikelola secara independen, yang menerbitkan karya-karya sendiri maupun karya orang lain. Tak jarang, sebuah penerbitan umum yang berkembang semula diawali dari self/independent publishing.

Seperti saya singgung dalam tulisan-tulisan sebelumnya, salah satu tren perbukuan ke depan adalah maraknya pendirian penerbitan mandiri ini. Mengapa? Ya, karena sekarang membuat penerbitan sendiri sudah sedemikian mudahnya. Selain itu, banyak manfaat yang bisa diambil, selain juga potensi bisnisnya yang lumayan. Saya pun mendapati bahwa minat para penulis untuk membuat penerbitan mandiri ternyata cukup lumayan. Klien-klien saya sendiri juga banyak yang berminat dan akhirnya mendirikan penerbitannya sendiri.

Nah, bagi Anda yang ingin mencoba membuat self-publishing atau independent publishing, saya coba memadatkan segala tetek-bengek pembuatan penerbitan mandiri ini ke dalam delapan langkah berikut.

Pertama, siapkan naskah yang siap terbit dan memenuhi kriteria atau anjuran-anjuran sebagaimana saya tulis dalam buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005). Naskah siap terbit artinya naskah yang sudah tersunting secara rapi dan lengkap (lihat artikel “Bagaimana Melengkapi dan Mengamankan Naskah Buku?”). Naskah yang sudah rapi dan lengkap akan memudahkan proses penerbitan buku. Sementara, naskah yang tidak lengkap dan rapi bisa sangat merepotkan.

Untuk Anda yang ingin benar-benar mendapatkan manfaat finansial dari ‘petualangan penerbitan’ ini, saya anjurkan supaya benar-benar memilih naskah buku yang berpotensi untuk laku keras. Atau, akan jauh lebih baik lagi bila naskah itu berpotensi menjadi buku best-seller. Apa ciri-cirinya? Saya sudah bahas lengkap dalam artikel-artikel atau buku saya sebelumnya. Kecuali Anda memiliki misi khusus dengan penerbitan naskah tertentu, maka soal laku atau tidak laku memang tidak terlalu memusingkan.

Kedua, siapkan modal yang cukup untuk mencetak dan mempromosikan buku. Perkiraan saya, jika kita bisa efesien sekali dalam proses penerbitan ini, maka dengan modal sekitar Rp15-30 juta kita sudah bisa menerbitkan buku fast book atau buku ukuran 14 x 21 cm dengan rata-rata ketebalan antara 150-200 halaman dan oplah mencapai 3.000 eksemplar. Di sejumlah kota seperti di Yogyakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya, kadang dengan modal di bawah Rp10 juta pun bisa jalan dengan jumlah cetak yang lebih sedikit.

Nah, sebagian orang tidak bermasalah dengan modal. Klien-klien saya, terutama yang datang dari lembaga konsultan, perusahaan, atau pembicara publik, biasanya tidak menemui kesulitan soal modal penerbitan. Sementara, bagi sebagian lagi amat bermasalah alias sulit mendapatkan modal. Saya lihat, tak sedikit penulis yang memanfaatkan royalti bukunya untuk memodali dan mengawali penerbitan mandiri mereka. Saya sendiri termasuk yang menempuh jalan ini. Sebagian lain ada yang patungan dengan rekan-rekannya. Prinsipnya, asal ada naskah yang bagus potensi pasarnya, maka modal pasti tidak sulit didapat.

Ketiga, merumuskan nama penerbitan yang menjual. Bagi saya sendiri, ini merupakan satu tahap yang penting dan sangat menarik. Bagaimana tidak? Membuat nama penerbitan layaknya menciptakan sebuah merek produk. Kita menciptakan identitas yang nantinya akan berkembang menjadi sebuah institusi. Sementara mereknya sendiri bisa saja berkembang dan memiliki ekuitas yang tinggi. Bolehlah kita berandai-andai suatu saat penerbitan yang kita lahirkan ini akan besar dan mapan sebagaimana penerbitan-penerbitan lainnya.

Maka dari itu, sekalipun kita bebas memilih nama penerbitan, saya anjurkan supaya Anda memilih atau menciptakan nama penerbitan yang memiliki makna tertentu, sekaligus punya nilai jual. Ketika saya melahirkan Bornrich Publishing, maka bayangan saya adalah sebuah penerbitan buku yang sifatnya menggerakkan motivasi dan etos ekonomi, dan kemudian berujung pada cita-cita kesejahteraan masyarakat. Ketika saya melahirkan Fivestar Publishing, maka bayangan saya adalah sebuah penerbitan yang bertujuan untuk menggerakkan masyarakat supaya bangkit dan mengejar prestasi terbaik.

Khusus untuk lembaga konsultansi atau yayasan, maka inisial atau singkatan dari institusi tersebut juga bagus untuk dipakai sebagai nama penerbitan. Selain membantu branding lembaga tersebut, koneksitas antara penerbitan dengan lembaga tadi juga terasa lebihs erasi. Semisal, Jagadnita adalah sebuah lembaga konsultasi psikologi yang kemudian mendirikan Jagadnita Publishing. Atau Quantum Asia Corpora, sebuah lembaga konsultansi yang kemudian mendirikan QAC Publishing.

Keempat, menyiapkan desain kaver dan tata letak (lay out). Untuk kedua pekerjaan ini, kita bisa melakukannya sendiri bila mampu, atau dengan menggunakan tenaga desain profesional. Kita bisa memanfaatkan tenaga-tenaga desainer freelance atau mereka yang biasanya bekerja di perusahaan penerbitan. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan desainer kaver atau penata letak dengan cara mem-posting pengumuman ke milis-milis perbukuan.

Untuk tata letak buku, biayanya bervariasi tergantung pada ketebalan buku serta ornamen-ornamen di dalamnya. Jika naskah buku kita banyak menggunakan grafik, foto, atau detail ornamen yang rumit, maka biaya tata letaknya bisa agak mahal (standar Rp1.500.000-3.000.000). Sementara, tata letak buku yang hanya berisi teks tidak memerlukan biaya mahal karena relatif lebih mudah dikerjakan (standar Rp750.000-1.500.000).

Soal biaya desain kaver bervariasi, tergantung pada siapa yang mengerjakan dan jenis desain yang dikehendaki. Di Yogyakarta, kita bisa mendapatkan desainer kaver standar dengan fee berkisar antara Rp400.000-800.000. Adapun di Jakarta, fee untuk desain kaver standar berkisar antara Rp600.000-1.200.000. Untuk desain-desain tertentu, biayanya bisa lebih mahal. Saya dengar, seorang desainer kaver buku yang cukup punya nama menetapkan fee sebesar Rp10 juta.

Kelima, urus ISBN dan membuat barcode. Setiap judul buku perlu ‘identitas’ yang berlaku secara internasional dengan cara mendapatkan nomor ISBN. Jika sudah mendapat nomor ISBN, maka pekerjaan berikutnya adalah membuat barcode buku. Perpustakaan Nasional, tempat kita mendaftarkan ISBN buku kita, juga melayani pembuatan barcode. Tapi, kita bisa buat sendiri barcode dengan menggunakan program Corel Draw, asal sudah mendapatkan nomor ISBN.

Cara mendapatkan ISBN mudah sekali. Kita cukup menyiapkan satu surat permohonan ISBN (ditujukan kepada Kepala Perpustakaan Nasional u.p. bagian ISBN) dengan dilengkapi fotokopi halaman judul buku, halaman hak cipta, daftar isi, dan pendahuluan. Berkas bisa dikirim via pos, faksimili, atau diantar langsung ke Gedung Perpustakaan Nasional RI (lantai 2) di Jalan Salemba Raya 28-A, Jakarta (Telp: 021-3101411 psw 437). Bila kita baru pertama kali menerbitkan buku, maka kita akan diminta mengisi formulir keanggotaan ISBN. Kita akan mendapatkan kartu keanggotaan ISBN dan penerbitan kita tercatat di Perpustakaan Nasional. Pengalaman saya, mengurus ISBN berlangsung cepat, tak kurang dari 15 menit dan hanya membutuhkan biaya administrasi Rp25.000 (tanpa film barcode) untuk setiap judul buku.

Keenam, memilih percetakan yang tepat. Ada banyak jenis percetakan, tetapi pastikan untuk hanya memilih percetakan yang sudah berpengalaman dalam mencetak buku. Jangan pilih sembarang percetakan, terlebih percetakan yang hanya sekali-sekali mencetak buku. Jangan pula tergoda dengan percetakan yang asal murah. Terpenting adalah kualitas cetak dengan harga yang wajar. Ingat, produk buku punya bobot lain dibanding materi-materi cetak lainnya. Kalau kualitas cetaknya buruk, lupakanlah soal kredibilitas, kepercayaan, dan soal brand penerbitan maupun penulisnya.

Jika kita seorang pemula dalam penerbitan buku, usahakan mendapat pelayanan dari staf marketing percetakan tersebut. Pengalaman saya dan klien-klien saya, hampir setiap percetakan yang baik pasti menyediakan staf marketing yang siap melayani kliennya. Berurusan dengan percetakan seperti ini, kita bisa tinggal menyerahkan materi cetak, sementara mereka yang akan mengurus detailnya. Dan untuk amannya, pastikan pula kita bisa bersinergi dengan bagian percetakan dan desainer kaver maupun penata letak isi buku.

Ketujuh, menentukan harga jual buku. Setelah mengetahui biaya cetak dan komponen-komponen biaya lainnya (desain kaver, tata letak, editing, promosi), maka kita sudah bisa memperkirakan harga jual buku nantinya. Bagaiamana rumusannya? Mudah: seluruh biaya produksi dibagi dengan jumlah oplah buku, lalu dikalikan lima, hasilnya adalah harga jual buku kita. Contoh, biaya produksi Rp24.000.000 dibagi jumlah cetak 3.000 eksemplar (ketemu harga produksi @ Rp8.000) dikalikan lima = Rp40.000. Jadi, harga jual buku kita di toko nantinya Rp40.000.

Formula harga di atas adalah yang paling umum digunakan dan membuat harga buku tetap terjangkau. Yang saya amati, ada pula yang menggunakan bilangan pengali antara 6-7 kali untuk menetapkan harga jual. Akibatnya, harga buku menjadi jauh lebih mahal. Di satu sisi ini menguntungkan penerbit, di sisi lain ini berisiko juga, karena harga yang terlalu tinggi juga mempengaruhi minat beli komsumen. Oleh karena itu, pada kesempatan pertama menerbitkan buku, jangan pernah tergoda untuk melambungkan harga buku. Bila ingin mengunakan angka pengali lebih dari lima, pertimbangkan betul-betul daya serap pasar nantinya. Bila perlu, mintalah masukan dari konsultan penerbitan, distributor, atau toko buku kerena merekalah yang paham soal itu.

Kedelapan, mengadakan perjanjian distribusi dengan distributor. Pada saat naskah buku naik cetak, kita sudah harus mendapatkan distributor buku. Sebab, bila kita sudah mendapatkan distributor buku saat proses pencetakan berlangsung, maka selesai cetak buku itu bisa langsung dikirim ke gudang distributor. Distributor buku adalah salah satu pilar utama bisnis penerbitan, selain toko buku dan penerbit itu sendiri. Sebagai penerbit, bisa saja kita berkeliling dari toko ke toko untuk menawarkan buku kita (konsinyasi atau beli putus). Tapi, untuk menghemat tenaga, menjangkau toko-toko secara nasional, dan mempermudah persoalan administrasi, lebih baik kita menggunakan jasa distributor.

Banyak distributor buku dengan kekuatan maupun kekurangannya masing-masing. Hampir semuanya menggunakan sistem konsinyasi (beli kredit atau pembayaran sesuai dengan jumlah buku yang laku). Ada yang lingkupnya nasional serta menjangkau hampir seluruh toko buku, ada pula yang lingkupnya lokal dan hanya menjangkau toko-toko buku tertentu. Diskon yang diminta oleh distributor (yang nantinya dibagi dengan toko-toko buku) berkisar antara 45-60 persen dari harga jual buku. Soal diskon, kita bisa bernegosiasi dengan pihak distributor dan kemudian kerjasama itu dibuat dalam format kontrak kerjasama pendistribusian.

Nantinya, sebulan sekali kita akan menerima laporan penjualan buku kita. Sementara, jatuh tempo pembayaran bervariasi antara distributor yang satu dengan yang lain. Ada distributor yang sudah bisa membayar dalam setengah bulan, namun ada pula yang baru membayar dua bulan setelah laporan penjualan kita terima. Semua ketentuan itu termaktub dalam kontrak kerjasama.

Pada intinya, delapan langkah itulah yang kita butuhkan untuk mendirikan sebuah penerbitan mandiri. Kedelapan langkah tersebut sudah mencakup persiapan penerbitan hingga peredaran buku ke pasaran. Sebab, begitu buku kita sudah sampai di tangan distributor, maka biasanya seminggu kemudian buku tersebut sudah beredar di toko-toko buku. Sebagai penerbit, kita sudah menyelesaikan satu rangkaian proses produksi atau penerbitan buku.

Dan, begitu buku produksi penerbitan mandiri kita beredar di toko-toko, maka sejak itulah merek penerbitan kita resmi beredar di tengah-tengah khalayak. Tugas kita selanjutnya sebagai penerbit adalah membuat gema promosi dengan berbagai aktivitas supaya khalayak tertarik dan kemudian membelinya.

Tapi, saya sering mendapat pertanyaan begini, “Apakah membuat penerbitan mandiri itu harus disertai dengan pendirian badan usaha semacam PT atau setidaknya CV? Bagiamana soal pajak dan sebagainya?” Jawaban saya standar saja, tidak selalu. Apabila penerbitan ini formatnya self-publishing atau independent publishing, terlebih bila masih coba-coba menemukan format, mengapa harus di-PT-kan? Langkah itu akan menambah beban biaya lagi, sementara ‘petualangan penerbitan’ belum tentu menguntungkan.

Nah, apabila nantinya penerbitan yang kita bangun itu menguntungkan, bisa memproduksi buku lebih banyak lagi, bisa mempekerjakan beberapa orang, manajemen sudah dirapikan, urusan pajak sudah dipersiapkan dan ditata dengan lebih baik, silakan bentuk badan usahanya. Dunia penerbitan kita banyak diwarnai oleh langkah-langkah semacam ini. Hampir semua penerbit kecil atau independen pada awalnya berusaha memperkuat bisnisnya dulu. Setelah mampu memperkuat basis bisnisnya dengan terus mengembangkan diri, barulah kemudian membakukan penerbitannya dalam sebuah badan hukum dan kemudian memproklamirkan diri menjadi penerbitan umum. Jadi, tunggu apa lagi? Selamat mendirikan penerbitan mandiri.[ez]

* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, penulis buku-buku best-seller, penerbit buku, dan konsultan penerbitan. Ia mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang melahirkan buku-buku laris. Ia juga telah membantu banyak klien dalam melahirkan buku-buku bestseller dan mendirikan penerbitan mandiri. Edy dapat dihubungi di: https://ezonwriting.wordpress.com atau edzaqeus@gmail.com.

7 Blog Terbaik Kategori Menulis & Menerbitkan Fiksi


1. Aliventures

aliventure blog tips menulis fiksi

Blog milik Ali Lukas, penulis novel Lycopolis dan trainer menulis yang bermukim di Inggris..Ali dikenal luas di blogosphere. Blog papan atas seperti problogger dan copyblogger kerap mempublikasikan tulisannya. Saya menyukai konten-konten Aliventures. Teknis dan lansung bisa diterapkan. Contohnya  The Four Essential Stages of Writing. Belakangan ini posting Ali banyak membahas cara memanfaatkan internet dalam menunjang karir menulis.

2. Daily Writing Tips

blog untuk belajar menulis fiksiSesuai namanya, blog ini menerbitkan satu tips menulis setiap hari. Daniel Scocco pendiri DWT mengelola blog ini bersama tim editorial yang kapabel di dunia tulis-menulis. Cakupan kategori DWT tergolong lengkap. Diantaranya dasar-dasar menulis, tata bahasa, ejaan, penggunaan tanda baca, kosa kata, sampai gaya penulisan, Sempatkanlah membaca salah satu posting terpopular mereka yang berjudul  34 Writing Tips That Will Make You a Better Writer

3. Lindsay Buroker

blog tips menulis ebook

Lindsay Buroker adalah penulis cerita pendek dan novel fantasy. Dia telah menerbitkan beberapa novel dalam format ebook (yang lebih disukainya ketimbang format cetak). Blog ini mengajarkan teknik menulis & penerbitan. Lindsay banyak memberikan pandangan bagus mengenai mengapa penulis di era sekarang sebaiknya memilih format ebook. Salah satu posting Lindsay yang menarik untuk anda baca berjudul  Can a “Normal” Author Make a Living E-publishing ?

4. The Write Practice

blog tips menulisJoe Bunting & Liz Bureman yang mengelola blog ini punya pendekatan unik. The Write Practice memberikan tugas praktek kepada pembaca setiap akhir posting.  Menurut mereka, praktek merupakan hal terpenting dalam belajar menulis. Sebagai contoh, silahkan membaca artikel mereka yang berjudul The Aesthetics of Good and Evil in David Copperfield

5. The Book Designer

blog cara membuat buku, cara menerbtikan buku, cara membuat ebook

Berminat menerbitkan buku di jalur indie (self publishing) ? Anda wajib mengunjungi blog milik Joe Friedlander ini. The Book Designer akan mengajarkan anda cara menerbitkan buku dan ebook. Panduannya lengkap mulai dari tahap pra produksi, mendesain interior buku, cara membuat cover, pemilihan huruf,  pemakaian format cetak & digital, sampai trik pemasaran buku. Joe Friedlander seorang designer buku handal yang berpengalaman sejak tahun ’70-an di industri penerbitan. Salah satu posting favorit saya di blog ini berjudul 5 Favorite Fonts for Interior Book Design.

6. The Creative Penn

blog untuk belajar menulis ebook, tips promosi bukuSalah satu pemenang Top Ten Blogs For Writers 2011 – 2012. Blog ini milik Joanna Penn. Seorang penulis, blogger dan pembicara yang berbasis di Inggris. Joannna juga trainer kursus menulis novel. Novel thriller-nya yang berjudul Pentecost pernah masuk daftar terlaris Amazon. Joanna banyak memberikan panduan mengenai cara menerbitkan dan mempromosikan buku fiksi secara online. Seperti misalnya dalam posting berjudul 10,000 Books Sold: Sales Figures For Pentecost, A Thriller Novel.

 7. Write To Done

blog cara menulis, blog tips menerbtikan bukuWrite To Done membahas luas topik  penulisan. Namun ada satu kategori yang khusus membahas fiksi. Blog ini sarat konten yang akan memandu anda tumbuh berkembang menjadi penulis yang baik. Sempatkan untuk membaca salah satu posting mereka yang berjudul The Secret of writing funny.

Semoga Bermanfaat

Sumber : http://indonovel.com/

Teknik Penyusunan Judul


311449_269410223071470_100000074842009_1142852_3868058_nA. Pendahuluan

SEORANG peneliti merasakan adanya”sesuatu yang tidak beres”, (dalam arti tidak atau belum sesuai dengan kondisi yang seharusnya), artinya seorang peneliti harus memiliki keingintahuan yang tinggi dan keinginan untuk memperbaiki keadaan.

Contoh : “Selama saya kuliah, belum pernah saya temui seorang mahasiswa pun berjalan sambil membaca buku di kampus karena saking gemarnya membaca, misalnya.ini juga menguatkan survei UNESCO bahwa pringkat membaca Indonesia, berada di bawah negara-negara tetangga kita seperti Malaysia bahkan Vietnam. Mungkin juga beralasan bahwa lesunya membaca ini adalah pemicu sepinya diskusi-diskusi kecil atau publik di kampus. Padahal, menurut mahasiswa yang sudah alumni, kegiatan diskusi adalah kegiatan yang biasa ditemui di setiap sudut kampus ini dulu. (kutipan dari radarbanten.com)

Mengacu pada masalah yang dapat dilihat dari suatu kasus bisa diambil rumusan masalah yang diungkapkan dalam kalimat tanya :

  1. Apakah benar bahwa mahasiswa kita kurang minat membaca?
  2. Apakah benar lesunya minat membaca berakibat lesunya forum diskusi di kampus?
  3. Apakah benar dengan lesunya membaca dan diskusi ini mengakibatkan kurang ada gairah dalam penelitian dan menulis dikalangan mahasiswa?

Dari pertanyaan diatas peneliti harus bisa menentukan apa variabel penelitian atau yang menjadi objek penelitian yang merupakan inti dari masalah penelitiannya. dengan kata lain untuk menyusun masalah penelitian peneliti harus mengetahui terlebih dahulu apa variabelnya. ketiga pertanyaan diatas diajabarkan berdasarkan tiga gejala yang penliti baca di media berdasarkan pengamatan sendiri.

Hal lain yang bisa diamati dari ” Hal yang tidak beres”, dapat dilihat dari hal yang positif dari kegiatan mahasiswa dengan adanya kegiatan mentoring yang diselenggarakan oleh “lembaga dakwah kampus’ terutama dikampus umum yang marak dibandingkan dengan kampus berbasis agama. sehingga anda rumuskan juga dalam kalimat pertanyaan :

  1. Kegiatan positif apa saja yang dilakukan mahasiswa melalui kelompok mentoring tersebut?
  2. Motif-motif apakah yang mendorong para mahasiswa untuk mengadakan kelompok mentoring tersebut?
  3. Apakah ada kaintan yang erat antara mentoring dengan kegiatan salah satu partai sebagai sel kaderisasi?

Untuk menjawab semua pertanyaan dari asumsi dasar yang diajukan peneliti dapat mengajukan pertanyaan “Manakah kira-kira yang paling baik, mulai dengan mendaftar sebanyak mungkin pertanyaan atau langsung menentukan sejumlah pertanyaan?

Asumsinya sebagian orang dengan cepat memperoleh pertanyaan penelitian karena sensitif terhadap lingkungan dan dapat merasakan adanya permasalahan disekelilingnya sehingga ingin memecahkan permasalahan tersebut melalui kegiatan penelitian. sebaliknya sebagian orang sukar menemukan permaslahan yang akan diteliti sehingga apabla seorang mahasiswa, setelah lama menyelesiakan teori, tidak habis-habis berada dalam “masa berpikir mencari judul “untuk skripsinya.

Intinya modal utama mahasiswa dalam menentukan judul harus menguasai permasalahan lalu lanjut pada pemahaman terhadap literatur yang relevan dengan judul penelitiannya. dalam keadaan mantap peneliti harus juga meninjau kembali rumusan pertanyaan yang diajukan dan sambungkan dengan bahan pustaka, sebaliknya jika dalam mengkaji bahan pustaka untuk teori tidak memperoleh dukungan maka lebih baik mengurungkan niatnya untuk walaupun judul dirasakan sudah sesuai dengan keinginan peneliti.

Secara garis besar, proses penelitian pada umunya melalui langkah-angkah sebagai berikut ;

  1. Mencari permasalahan yang pantas untuk diteliti.
  2. Menelaah buku-buku untuk mencari dukungan teori dengan cara membaca buku teori maupun laporan hasil penelitian dari hasil telaah ini peneliti menentukan langkah untuk terus atau harus menghentikan penelitiannya.
  3. Meninjau kembali rumusan serta memantapkan problematika tersebut dan dilanjutkan dengan merumuskan tujuan dan hipotesis penelitian.
  4. Menyusun instrumen pengumpul data.
  5. Melaksanakan penelitian
  6. Melakukan tabulasi pengolahan data
  7. Mengambil kesimpulan
  8. Menyusun laporan penelitian

B. Acuan menentukan sebuah judul skripsi

setelah memahami urutan proses penelitian secara umum kembali pada prumusan problematika dan judl penelitian. apabila peneliti sudah merasa bahwa ia telah memiliki problematika penelitian dan hal ini berarti bahwa peneliti dengan jelas sudah menguasai permasalahan penelitiannya, maka ia dapat mencari rumsuan untuk judulnya. rumusan problematika saja memang belum cukup, peneliti harus juga mengetahui hal-hal lain yang berkaitan dengannya.

  • Berpatokan pada masalah bukan pada judul skripsi yang ada

Walaupun judul selalu tercantum dibagian paling depan dari setiap penelitian, tetapi tidak berarti penelitian berangkat dari judul. Bahkan untuk jenis penelitian kualitatif, judul penelitian dapat dibuat setelah penelitian selesai. Kekeliruan sebagian mahasiswa selalu menentukan judul berasal dari judul yang sudah ada, padahal judul bisa diambil dari permasalahan yang ada dalam mata kuliah, fenomena sehari-hari ditempat kerja, dari hasil sharing seminar, pola pikir membuat judul dapat dilihat :

(1). Topik…(2).Masalah—> (3)Identifikasi masalah…> (4) Batasan masalah …> (5) Judul

Dari pola diatas maka judul penelitian itu sudah spesifik karena berangkat dari batasan masalah. jadi variabel penelitian yang telah dibatasi itulah yang diangkat menjadi judul penelitian. Masalah dapat dilihat dari asumsi dasar (dasar berpijak masalah yang bisa dijadikan sebuah acuan judul) seperti :

Kesulitas mahasiswa STBAJIA untuk menghilangkan logat daerah saat pengucapan bahasa jepang”

“PT KAI seringkali terjadi kecelakaan yang tidak bisa diprediksi”

  • Judul harus netral

Karena pada dasarnya meneliti adalah keinginan mengetahui data atau gejala sebagaimana adaya (bukan sebagaimana seharusnya) maka judul penelitian harus netral, tidak dipengaruhi unsur-unsur subyektif yang belum diketahui kebenarannya. judul penelitian harus netral dan didasarkan pada bentuk-bentuk permasalahan. untuk bentuk permasalahan deskriptsif yang bersifat estimasi (yang menggambarkan keadaan satu variabel/uni variabel)

  • Teks judul sederhana dan spesifik

untuk penelitian harus ada pembatasan maslah dengan memperkecil jumlah variabel, memperkecil jumlah subjek penelitian, mempersempit lingkup wilayah penelitian menggunakan instrumen dengan memilih metode pengumpulan data yang lebih sederhana, menganalisis data dengan teknik yang tepat guna dan menyusun laporannya sesingkat mungkin.

Sebuah judul harus berisikan ;1).  teks pengantar (analisa, hubungan dengan…, studi deskriptif…, studi ekssploratif, dll); 2). variabel pokok yang merupakan objek yang akan diteliti,  3). subjek penelitian tempat diperolehnya data untuk variabel yang diteliti, 40. lokasi tempat penelitian dilaksanakan, 5). waktu data penelitian diambil atau waktu penelitian dilaksanakan.Teks judul dapat ditulis dalam skrisi seperti berikut :

  1. Peranan………………….terhadap……………………………………………………………………………..
  2. pengaruh…………………terhadap…………………………………………………………………………….
  3. pengaruh…………………dan………………….terhadap…………………………………………………….
  4. Hubungan ……………….dengan……………………………………………………………………………….
  5. hubungan…………………dan…………………dengan……………………………………………………….

Judul penelitian selain berbentuk hubungan sebab-akibat bisa juga bersifat komparatif (membandingkan), maka judulnya penelitian dengan teks yang sering digunakan :”Perbandingan……………….antara…………………………………………………………………………………..
“perbandingan………………… terhadap …………………………………………………………………………….

karena dalam penelitian kualitatif banyak variabel yang diamati dan masalah yang diteliti belum jelas, maka judul-judul penelitian tidak harus eksplisit serti pada batasan masalah. judul-judl penelitiannya masih bersifat sementara, dapat berubaha dan dapat dirumuskan judlnya setelah penelitian selesai.

  •    Judul bisa juga dari pembimbing anda

Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan “ditarik” masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.Akan tetapi terlalu banyak mempunyai permasalahan lalu berkonsultasi dengan pembimbing, setelah mengetahui adanya kesulitan lalu berubah ingin mengganti judul. dengan proposal yang diajukan dengan berbagai alasan latar belakang masalah diajukan, belum selesai terpikir masalah lain sangat menarik untuk diajukan kembali menjadi sebuah judul. bisa jadi mahasiswa yang sering gunta-ganti judul tidak menguasai permasalahan dengan baik. dipihak lain ada mahassiwa yang sulit menemukan judul, tidak segan-segan meminta pada calon pembimbing atau judul diberikan oleh dosen tapi kesulitan mencerna karena mahasiswa belum terbiasa merangkai kata-kata, nasehat dosen sangat bermanfaat, tapi terkadang judul skripsi pemberian dosen sulit dipahami oleh mahasiswa maknanya sehingga ada kompromi semu padahal tidak paham dengan permasalahan.

Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.

Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal.

Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.

Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah “hafal di luar kepala” sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.

Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.

Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara “baku”. Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.

  •  Judul yang sesuai dengan tingkat analisa dan penentuan topik

kadang kala yang harus dilakukan bagaimana cara menentukan sampai seberapa besar cakupan analisa. Hal ini sangat penting karena dengan menentukan tema atau judul yang sesuai dengan tingkatan analisa tepat maka anda akan lebih mudah menentukan rumusan masalah dan pembatasan penelitian. Jadi, sebenarnya untuk menentukan judul dalam berbagai kajian ilmu apapun tidaklah sesulit yang mahasiswa bayangkan.

Dalam penetuan topik disarikan bahwa topik harus penting (significanne of topic), harus menarik perhatian penelitian (interesting topic), harus didukung oleh data atau dngan kata lain untuk topik harus tersedia datanya (obtainable data) dan topik penelitian harus dapat dilaksanakan dalam arti sebatas kemampuan penelitian (manageble topic)

Berikut merupakan langkah yang harus anda lakukan ketika memilih tema atau judul untuk skripsi bahasa

  1. Bagaimana untuk mendapatkan judul yang sesuai dalam ilmu bahasa.

Untuk mendapatkan judul atau tema skripsi ilmu bahasa maka saya sarankan anda harus membaca banyak referensi. Banyak referensi, tidak berarti tidak harus bersumber pada buku-buku atau jurnal yang membahas tematik bahasa. Saya seringkali menemukan judul ilmu bahasa yang kemudian saya angkat menjadi skripsi ketika membaca majalah-majalah seperti National Geography atau bahkan majalah wanita seperti Femina.

Jadi bisa saja, artikel yang membahas analisa sastra namun juga mempunyai muatan ilmu komunikasi dan feature bahasa, kalau anda cukup teliti untuk menangkap ide ini. Jadi, jangan mengkotakkan diri anda dalam sebuah ilmu yang anda pelajari selama kuliah saja. Banyak membaca Novel dan komik berarti anda memperluas wawasan anda.

Langkah kedua untuk mencari ide judul skripsi adalah sharing dengan teman, atau dosen pembimbing akademis anda. Percakapan dengan teman yang anda lewatkan di kantin ataupun ketika dosen menyampaikan materi kuliah, terus keluar ide dan anda menangkapnya. Jadilah sebuah judul skripsi.Untuk penerimaan judul biasanya ditentukan dari kebaruan dan kesulitan mengenai objek yang diteliti

2. Menentukan Wilayah lingusitik kebahasan yang paling kita pahami.

Perlu diingat bahwa ilmu bahasa adalah sangat luas dan berpatokan pada konsep Speaking, listening, writing dan reading. Jadi untuk mencari kajian apa dan bagaimana ilmu bahasa maka dapat dikembalikan dalam esensi dari ilmu bahasa  itu sendiri. Jadi tema atau judul dalam bahasa dapat di dasarkan pada kajian-kajian wilayah lingua bahasa yang luar biasa luasnya dan juga bahasa ada kaitannya dengan ilmu sastra. Ilmu sastra sendiri bersumber dari kajian yang mengulas secara tematik mengenai sastra,  Baik input, output maupun lingkungan; ke semuanya membentuk sistem yang saling terkait dan saling mempengaruhi.

Berdasarkan bagan diatas maka kita dapat meletakkan topik tersebut di dalam wilayah proses input, output (kebijakan), maupun lingkungan. Berikut merupakan berbagai contoh tema yang dapat diangkat dalam menganalisa bahasa seperti bahasa inggeris

1.Input. Bentuk input dalam ilmu bahasa dibedakan menjadi dua yaitu komunikasi dan tematis Input dalam tuntutan disebabkan adanya kesulitasn dalam hal berkomunikasi dengan demikian timbulnya input berupa upaya meningkatkan kemampuan conversation oleh karena ada fenomena belajar bahasa inggeris sejak SD sampai PT tapi kemampuan percakapan kita sangat sulit, hal ini disebabkan oleh adanya sebuah kondisi psikologis kalau bahasa inggeris itu bahasa asing, dipelajari saat benar-benar dibutuhkan, kurangnya pembiasaan percakapan, kurangnya dukugan sekitar kita untuk selalu menggunakan bahasa itu sebagai bahasa sehari-hari kita.

2.Output. Output dalam suatu sistem kebahasan adakalah peningkatan kompetensi kebahasan yang dirasa masih kurang. Jadi secara meluas, tema yang dapat diangkat dalam wilayah output untuk sebuah judul bahasa adalah jalannya pelaksanaan, keefektifan serta implikasi kebahasan  tersebut dalam struktur bahasa.

3.Lingkungan. Untuk menciptakan proses dimana sistem tersebut berjalan maka dibutuhkan adanya lingkungan bahasa. Lingkungan bahasa merupakan suatu penggambaran secara sistematik dari setiap pola penggunaan bahasa yaitu baik struktur maupun fungsi dari yang bisa didaptasi oleh bangsa indonesia artinya bahasa inggeris bisa diterima sebagai bahasa kedua setelah bahasa Indonesia Lingkungan ini dapat berupa lingkungan internal atapun eksternal. Tema inilah yang paling banyak tidak dicermati mahasiswa sebagai tema dalam penelitian bahasa dari sudut budaya dan tema kesusastraan, padahal bahasa sangat begitu dekat dengan tema omunikasi sastra dan komunikasi, padahal banyak bidang yang bisa dikaji, misalkan analsia tematis novel, film dan sastrayang berasal dari permasalahan bahasa setempat seperti logat bahasa ataupun perbedaan pola budaya dan sastra dalam berbahasa.
Ke semua bagian dalam sistem kebahasan akan seperti yang diuraikan di atas dapat menjadi dasar kegiatan dalam meenentukan judul penelitian bahasa Hal ini akan membantu anda dalam menentukan ruang lingkup dalam menentukan judul bahasa yang tidak hanya terpokus pada grammer, conversation, fonetik tapi kajian tema sastra juga bisa diadopsi dan   dijadikan sebagai dasar judul dalam kajian ilmu bahasa.

C. Menentukan Tingkatan Analisa

Langkah berikutnyan adalah menentukan tingkatan analisa masalah. Untuk langkah ini maka kita dapat membagi berdasarkan tingkatan mana yang paling mempengaruhi dan dipengaruhi dari tema kebahasan dapat dilihat nanti dalam hubungan antar variabel dalam paradigma penelitian.

Dalam perakteknya model judul penelitian cukup bervariasi dan tidak sesuai dengan teori yang diberikan diatas. terdapat judul penelitian yang mencerminkan permasalahan dan ada juga judul penelitian yang mencerminkan saran yang akan diberikan.

Membuat Judul skripsi tidak semudah yang kita duga, sehingga ada kecenderungan mahasiswa mengadopsi judul skripsi lain dengan topik yang berbeda atau menentukan sendiri dengan melihat fenomena empiris yang terjadi di lingkungan kita, baik pekerjaan, profesi, dan komunitas yang menyebabkan timbullnya permasalahan yang relevansi dengan konsentrasi akademik kita. Bahasa copy-paste sering menjadi pilihan utama mahasiswa karena tidak paham dalam menentukan judul skripsinya.

Sistematika dalam penyusunan judul bahasa secara bertahap antara lain:

  1. Tentukan Topik/Tema Penelitian

Mengambil judul bukan dari judul skripsi orang lain, tapi harus anda ambil dari topik yang secara empiris berdekatan dengan perkuliahan, pekerjaan, komunitas teman anda, dan lingkungan. Topik untuk penyusunan judul skripsi bahasa berpedoman pada topik antara lain : 

Bahasa Inggeris Bahasa Jepang
1). Speaking 1). Kaiwa
2). Reading 2). Dokkai
3). Writing 3). Sakubun
4). Listening. 4). Chokai

Dari topik ini bisa dispesfikasikan secara logis kedalam sub-topik yang lebih kecil lagi sehingga bisa mudah dipahami oleh siapapun, karena topik tidak terlalu umum dan memperluas bahasan anda.

Anda susun sub-topik dari topik diatas untuk mengspesifikasikan bahasan topik anda antara lain :

KAIWA DOKKAI SAKUBUN CHOKAI BUDAYA
Kaiwa 1 Kyujuuhai Sakubun happyu Chokai 1 Nihonjiju
Jitsuyu Kanji I nichi honyaku Chokai 2 Nihonshi
Kaiwa happyu Dokkai bunpo tsyuyaku Chokai 3 Nihon bungaku
Bijinesu kaiwa Dokkai hapyu nohonggaku Chokai 4 Nihon tsuushin
Kaiwa happyu 2 honyakuron Jitsuyu honyaku Chokai 5 Nihon kenkyuu zemi

D. Pengembangan Topik

Langkah Pertama: Identifikasi Sebuah Topic. Jika anda belum mempunyai topik, silahkan menggunakan cara-cara berikut.

  • Diskusikan topik yang Anda punya dengan Dosen pembimbing.
  • Anda bisa membaca koleksi skripsi yang ada di perpustakaan kampus (penelitian terdahulu).
  • Manfaatkan tabel untuk menyeleksi topik-topik skripsi yang sudah ada. Akan sangat memudahkan jika ada perpustakaan online yang bisa Anda manfaatkan.
  • Manfaatkan indeks dan judul-judul artikel dari berbagai ensiklopedia yang khusus membahas tema/topik yang sesuai dengan topik Anda.

Jadikan ide bahasan Anda menjadi bentuk kalimat tanya,  Contoh: Jika anda tertarik untuk meneliti tentang Pengaruh minuman keras terhadap mahasiswa. Anda bisa menjadikan kalimat Tanya seperti: “Apakah efek mengonsumsi minuman keras terhadap kesehatan mahasiswa?”

Identifikasikan ide pokok atau kata kunci pada kalimat Tanya.Pada contoh di atas kata kuncinya: minuman keras, kesehatan, mahasiswa

Langkah Kedua: Ujicoba Topik

Silahkan diujicoba kata kunci atau ide pokok dengan penelitian yang terdahulu (sesudah langkah pertama) atau bisa juga menggunakan media internet.

Jika Anda menemukan informasi tentang kata kunci sudah terlalu banyak, Anda bisa mengalihkan kata kunci Anda (biar tidak terlalu umum) menjadi bir, kesehatan, mahasiswa (= minuman keras > bir)

Jika hasil temuan Anda terlalu sedikit, maka Anda harus memperluas topik Anda. Contoh: mengganti mahasiswa dengan murid (murid lebih umum daripada mahasiswa).

Semoga tips ini bisa membantu.. enjoy with your research..

  • Tentukan Masalah Dan Rumuskan Masalah.

Setelah topik dipetakan kedalam sub-topik, kemudian pahami topik itu sesuai dengan jurusan kuliah anda. Biasanya masalah diungkapkan dalam kalimat pernyataan. Misalnya :

  1. Permusan : ”Kenapa pengucapan kata bahasa inggeris itu sulit?
  2. Masalah : ”Kesulitan dalam pengucapan kata bahasa inggeris”
  3. Sub-topik : percakapan (conversation)
  4. Topik : Speaking
  • Berikan Jawaban Empiris dan Teoritis terhadap Perumusan Masalah.

Dari perumusan ini bisa menguraikan jawaban empiris dan teoritis yang menyangkut adanya asumsi dasar yang bisa menjawab masalah yang dirumuskan oleh peneliti.kenapa pengucapan bahasa inggeris itu sulit? Banyak jawaban secara empiris : kurang menguasai vocabulary, sulitnya menghilangnya logat daerah, kurang latihan dan pembiasaan diri, tidak memiliki partner berbicara, mentalitas, dll.

  • Tentukan Variabel Penelitian

Variabel bisa diartikan sebagai bagian dari judul yang bisa diinterpretasikan kedalam sebuah teori. Variabel juga bisa diambil dari asumsi-asumsi dari perumusan masalah atau dari masalah itu sendiri.

Dalam hal ini yang menjadi variabelnya adalah…

  • Variabel Y   = perbaikan pengucapan kata bahasa inggeris.
  • Variabel X1= vocabulary
  • Variabel X2= dialek
  • Tentukan Paradigma Penelitian.

Dari variabel yang sudah ditentukan sehingga dapat dilihat hubungan konstelasi antar variabel :

                                           X1

                                                                                Y

                                           X2

  • Tentukan Jenis Penelitian
    Setelah paradigma anda buat, langkah berikutnya tentukan jenis penelitian, pastinya kalau variabel lebih dari satu, maka jenis penelitiannya kuantitatif dengan analisis statistika.
  • Tentukan Teks Judul.

Tahap terakhir menentukan teks judul : anda tentukan jenis teks judulnya : korelatif, deskriptif, komparatif,dll. Maka teksnya sebagai berikut :”hubungan korelatif antara vocabulary dan dialek daerah terhadap perbaikan pengucapan bahasa inggeris siswa SMAN 1 Bekasi tahun 2014”

E. Mencari judul skripsi atau penelitian lain

Ternyata mengelola website seorang diri itu memang susah. Konsisten sekali lagi membuktikan kepada saya bahwa saya memang orang yang sulit istiqamah/konsisten. Website sebelum ini, CMYK RGB memberi tahu saya bahwa pelajaran yang saya terima waktu saya masih duduk di bangku MI (Madrasah Ibtidaiyah), bahwa konsisten itu sulit, kecuali bagi orang yang ‘mendapat petunjuk’. Bagaimana tidak, sekarang saya mempunyai kebiasaan baru setiap harinya: mengecek website, apakah ada yang mengunjungi dan mengambil manfaat (meski saya tahu isinya tidak seberapa), melihat google analytic (bagaimana perkembangan web ini), tak lupa mengunjungi adsense saya (apa ada perkembangan).

Selalu dan selalu terpikir oleh saya, apalagi yang bisa saya tambahkan lagi pada web ini. Kreativitas saya seakan selalu dituntut untuk mengembangkannya. Bagaimana tidak, saya orang yang baru belajar mengelola web, dihadapkan pada jumlah pengunjung website ini. Satu sisi memang senang, bisa mempunyai web yang dikunjungi orang, artinya potensi untuk bermanfaat bagi orang. Di satu sisi lain, bagaimana mengondisikan pengunjung tidak merasa tertipu dengan isi dari web, otomatis saya harus meningkatkan kualitas web sendiri (baik ‘lahir’ maupun ‘batin’). Kondisi itu akhirnya menggerakkan saya untuk googling dan baca-baca lagi.

Berikut ini yang telah dan sedang saya terapkan dalam upaya untuk terus bisa konsisten dalam menjaga web saya tercinta http://www.cmyk-rgb.co.cc dan www. infoskripsi.com ini, yang saya namakan tips mengelola website.

  1. Memberi kesempatan saya pribadi menjadi kreatif adalah langkah pertama dalam membentuk pola berpikir kreatif.
  2. Beri pikiran input segar setiap hari dengan mendengarkan radio, membaca majalah, berjalan-jalan dan lain-lain.
  3. Mendengarkan orang lain, mungkin saja ide terbaik berasal dari orang lain, dan saya bisa mengembangkannya dengan baik.
  4. Berbicara dengan anak kecil, karena ide kreativitas mereka praktis dan tidak terbatas. Kalau perlu ikut bermain dengan mereka.
  5. Membaca buku (termasuk googling) mengenai cara merangsang kreativitas.
  6. Luangkan waktu, sebab relaksasi penting bagi proses kreatif.

Begitu pula dengan riset/penelitian. Kreativitas sangat penting dan menjadi syarat utama seorang researcher dalam menemukan ide sebuah penelitian. ‘Kepekaan’ adalah mutlak diperlukan. Kepekaan terhadap lingkungan akan mengakibatkan titik perhatian kita akan tersita olehnya. Begitu perhatian kita tersita, maka akan mengakibatkan intensitas dalam menganalisis suatu kondisi sebuah realita akan muncul.

Kalau hal itu sudah muncul maka akan diteruskan dengan ‘tingkat kepedulian’. Orang yang normal akan menindaklanjuti dari kepekaannya terhadap lingkungan dengan apresiasi, baik itu pro atau kontra. Kondisi inilah yang kerap kali menimbulkan asal gerakan penelitian yang baik. Tidak seperti kualitas penelitian (atau kebanyakan skripsi) sekarang, yang seakan terpaksa dimunculkan sebagai sebuah tuntutan keterpaksaan. Akhirnya banyak muncul hasil penelitian yang sumbangsihnya masih kurang begitu dirasakan banyak orang.

Permasalahannya sekarang, bagaimana cara meningkatkan kepekaan? Satu saran, JASMERAH (jangan lupa sejarah), kata bung Karno.

Dengan banyak mengingat kejadian-kejadian di masa yang lampau (past/madli) akan mengingatkan kejadian di masa sekarang dan mendatang (present/future-hal/mustaqbal ). Karena banyak sekali peristiwa di masa lampau yang akan terulang di masa mendatang. Biasanya hanya waktu dan tempat saja yang berubah. Kalau Anda mau peka dan peduli dengan sebuah fenomena. Anda akan mulai memprekdisikan kondisi mendatang.

Contoh: Mengingat masa lalu. Kalau Anda teringat dengan kejadian maraknya Anak kecil yang menjadi anarkhis setelah melihat layangan Gulat bebas di TV. Kemudian mereka mempraktekkannya terhadap teman-temannya sendiri. Anda pasti berpikir dan berpikir. Kenapa?

Dari kejadian tersebut, betapa banyak sisi-sisi yang layak untuk menjadi topik/tema penelitian.

Membayangkan kondisi sekarang: Silahkan cari fenomena yang lagi marak, kemudian coba kaitkan dengan sejarah, tentunya yang identik.. ada kejadian waktu fenomena tersebut..

Mungkin itu saja saran dari saya, mohon maaf dari tulisan yang masih belum tertata dengan rapi. Idenya saja keluar di tengah-tengah ngetik. Mungkin di lain waktu saya bisa memperbaiki dengan tulisan yang lebih sistematis. Amin.

 

Daftar Buku terbitan akhir tahun 2015


KOLEKSI BUKU

Publikasi buku (NEW)


  • 20150314_151522-1Judul Buku : Industrial Marketing
  • Pengarang : Ahmad Kurnia, SPd,MM.
  • Penerbit     : Reconiascript Self Publishing
  • tahun          : 2015
  • Halaman    : 212 Halaman

Berbicara marketing atau pemasaran kita jadi teringat dengan istilah “sales, salesman, sales promotion girl”. Sales artinya menjual, atau sales diartikan penjual yang berpenampilan khas berdasi dan membawa tentengan tas yang besar, berbicara lantang dan cepat, sedikit memaksa dan sebagian ada juga yang merasa tertipu dengan mulut manisnya. Stigma terhadap sales sebagian masyarakat benar walaupun berbeda dan dibenarkan kalau persepsi itu tertanam kuat akan keberadaan profesi marketing tersebut. Padahal dari profesi ini akan menjadi cikal bakal berdirinya perusahaan besar sekarang dan perusahaan sangat tergantung dengan profesi tersebut.

Ditengah seiring perjalanan waktu, dunia terus berubah dan pemasaran juga tentunya ikut berubah, dan begitu juga sebaliknya langkah pemasaran yang dilakukan oleh pemasar-pemasar yang visioner juga mengubah dunia. Sebut saja Mark Zuckeberg yang mengubah dunia lewat Facebook; Jawed Karim, Chad Hurley and Steve Chen mengubah dunia lewat YouTube; Jimmy Wales dan Larry Sanger mengubah dunia lewat Wikipedia, dan banyak lagi technopreneur lainnya. Sehingga bisa merubah tatanan ruang dan waktu.

Buku terbitan perdana dari Reconiascript Publishing tahun 2015, karya Ahmad Kurnia, SPd,MM sebagai buku perkuliahan pengantar marketing. Berisi sekilas bahasan tentang dunia marketing yang disesuaikan dengan perkembangan dunia internet yang luar biasa berpengaruh terhadap paradigma marketing sebelumnya.