Sekolah Mencetak Pengangguran, Benarkah?


Sekarang saja, ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata-rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun. Dalam “kalimat lain”, ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya (Kompas, 8 April 2011). Tulisan di atas merupakan kutipan opini panjang yang ditulis oleh Yudhistira ANM Massardi. Opini itu berjudul Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat. Pada intinya, menurutku, kolumnis menyoroti kesalahan system pendidikan yang berlaku di Indonesia saat ini. Dijelaskan oleh penulis bahwa rerata anak sekolah bertujuan agar ia dapat menjadi pegawai (negeri) setelah lulus sekolah. Sementara, peluang kerja itu semakin berkurang seiring kemajuan teknologi yang membantu terjadinya efisiensi tenaga kerja. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar sekolah membangun budaya kreativitas melalui terbangunnya imajinasi bagi siswanya. Aku sangat menyukai kalimat ini: kreativitas melalui imajinasi. Sebagai motivator dan pengajar, aku sering membangkitkan semangat siswa dan mahasiswa dengan dunia yang saat ini kutekuni: dunia kepenulisan. Aku sering “memamerkan” beragam keenakan menjadi penulis buku: punya uang banyak, sering diundang ke penjuru tanah air, bertemu pejabat penting, dapat honor, menginap di hotel berbintang dan lain-lain. Lalu, banyak siswa dan mahasiswaku bertanya, “Bagaimanakah caranya agar dapat menjadi penulis buku? Sebuah pertanyaan yang teramat kuharapkan. Mengapa? Karena siswa dan mahasiswa terbangkitkan imajinasi untuk memunculkan kreativitasnya. Iya, kita harus menumbuhkan kreativitas mereka. Bagaimanakah membangunnya? Menurutku, membangun kreativitas anak dapat dilakukan dengan tiga cara. Ketiganya adalah membangun imajinasi, menjadi contoh, dan mengakomodasi kreativitasnya. Berikut kupasannnya. Membangun Imajinasi Suatu hari, aku membawa uang sangat banyak ke kelas. Aku sengaja membawa uang royalti buku itu untuk kutunjukkan kepada siswa dan mahasiswaku. Aku menata uang itu di atas meja depan kelas sambil menunggu kehadiran siswa dan mahasiswaku. Tak berapa lama kemudian, kelas dipenuhi olehnya. Banyak siswa dan mahasiswa terheran-heran, mengapa di mejaku tergeletak begitu banyak uang? Aku pun mulai mengajar. Di sela-sela mengajar itulah, aku memasukkan nilai-nilai edukasi berbentuk motivasi. “Apakah Anda ingin kaya?” tanyaku kemudian. Sontak, semua siswa dan mahasiswa menjawab, “Mau!” “Kalau Anda ingin kaya, jadilah penulis buku. Ini contohnya!” ucapku sambil menuding ke arah setumpuk uang. Dari suasana itulah, aku membangun imajinasi mereka. Aku memberikan bayang-bayang keindahan bahwa betapa enaknya menjadi penulis buku. Uang tak perlu dicari karena uang itu akan datang sendiri. Dan benar adanya, banyak siswa dan mahasiswa terbangun imajinasinya melalui berbagai pertanyaan yang ditujukan kepadaku. Menjadi Contoh Kita itu krisis teladan. Kita begitu sulit menemukan orang yang dapat dijadikan teladan. Pada awalnya, orang itu tampak sholeh, santun, disegani, agamais dan lain-lain. Namun, orang itu ternyata penipu. Orang itu membungkus kebusukan dirinya dengan perilaku itu. Sepandai-pandai membungkus bangkai, akhirnya tercium juga. Maka, aku berusaha tidak meniru orang itu. Aku ingin menjadi contoh atau figur bagi anak, istri, lingkungan, dan kawan-kawanku. Dan aku memulai langkah awal itu melalui karya nyata dan mengurangi banyak bicara. Aku sering mengasingkan diri dari suasana keramaian kantor. Aku suka menyendiri dengan membaca buku ke perpustakaan. Aku suka merenung dan atau menulis di taman sekolah atau kampus. Kebiasaan ini terasa kurang lazim. Maka, beberapa teman bertanya, “Mengapa Pak Johan jarang terlihat di kantor?” Mendengar pertanyaan itu, aku menjawab, “Maaf, aku tidak dapat mengimbangi obrolan teman-teman. Karena masih bodoh, aku lebih suka di sini” Banyak teman menyindir dengan sikap yang tidak kusukai. Aku dianggap sombong, sok, dan seabreg predikat buruk lainnya. Namun, beberapa teman justru mengikuti jejakku. Beberapa teman ikut membaca buku dan belajar menulis bersama denganku. Senangnya belajar bersama dengan mereka! Mengakomodasi Kreativitas Hendaknya kita tidak hanya pandai menyuruh. Namun, kita harus menerima hasil dari perintah itu. Ketika kita menyuruh seseorang, kita harus mengakomodasi hasilnya. Seperti apapun hasilnya, kita harus menghormati dan menghargainya. Sedemikian halnya dengan diriku. Aku teramat menyukai hasil karya siswa dan mahasiswaku. Aku suka mencoret-coret hasil pekerjaan mereka. Namun, aku juga memberikan masukan agar karya itu menjadi lebih baik. Pada akhir pertemuan, biasanya aku memberikan penawaran agar tulisan itu dikirim ke media cetak. Sebagai pemotivasi, aku berjanji, “Saya akan memberikan nilai PLUS jika tulisan kalian dimuat.” Hasilnya sungguh luar biasa. Beberapa tulisan mereka memang dimuat. Dan itu berarti bahwa aku harus menepati janji! Jadi, aku sependapat dengan penulis. Untuk apa sekolah jika tidak diajarkan kreativitas. Sementara, kreativitas siswa dan mahasiswa akan tumbuh jika guru dan pengajarnya juga kreatif. Tanpa keteladanan, mustahil itu tercapai. Murid itu bagaimana gurunya. Guru kreatif akan melahirkan murid kreatif. Dan itu pun berlaku sebaliknya! Demikian tulisanku pagi ini. Semoga sekadar coretan ini bermanfaat. Amin. Terima kasih.

One thought on “Sekolah Mencetak Pengangguran, Benarkah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s